Agama, akhlak, Pancasila dan radikalisme

seperti apa yang pernah ditulis di notonogoro.com ini bahwa kita sekarang sudah tidak tahu lagi dimana Pancasila kita tempatkan dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Demikian juga dengan pelajaran akhlak yang sudah tidak ada lagi dalam kehidupan sekolah kita. Akhlak ditempatkan menjadi tanggung jawab masing-masing dan bukan tanggung jawab negara. Agama juga podo wae. Ada hanya untuk menjaga kepantesan saja. Negara yang mengaku percaya pada Tuhan  kan aneh kalau sampai tidak ada pelajaran agama disekolah. Intinya adalah kita sebagai bangsa sudah jauh dari akar jati diri dan budaya luhur bangsa ini. Arus modernisasi telah berhasil menggusur nilai-nilai tersebut dan diganti dengan nilai asing dari bangsa asing yang dinilai sebagai nilai terbaik dan universal di dunia ini. Cilakanya kita menerima itu apa adanya. Materialisme, capitalisme, sukularisme sudah mengalir dalam segenap rakyat Indonesia. Ini juga dianggap wajar saja sebagai bagian dari globalisasi.

Sekarang setelah terjadi berbagai kasus radikalisme yang tidak hanya melibatkan orang tua dan dewasa tetapi juga anak-anak kecil maka kita seperti biasanya langsung kebakaran jenggot. Mulai dikutak kutik lagi posisi agama, akhlak dan Pancasila untuk menangkal radikalisme yang mengalir pelan tapi pasti. Apa kita tidak sedih membaca hasil survey  yang mendukung kekerasan agama untuk menyelesaikan suatu masalah. Apa kita tidak terpaku membaca hasil survey yang menyatakan Pancasila sudah tidak relevan lagi.

Padahal sudah banyak yang menulis dan mengingatkan tentang pentingnya kembali ke akar budaya bangsa ini yaitu Agama, akhlak dan Pancasila. Jangan sok pinter dan sok modern. Jangan sok kuasa dan sok liberal. Tetapi tetap saja para pembuat kebijakan tutup mata dan telinga. Terus melakukan apa yang menurut mereka benar. Mata pelajaran Pancasila hilang dalam kurikulum sekolah mulai tahun 2003. Pelajaran agama sudah dibuat demikian formalnya. Pelajaran akhlak entah sudah dari kapan hilangnya dari dunia pendidikan kita. Sekarang bangsa ini menerima hasilnya yang sangat mengejutkan kita semua. Radikalisme ada dimana-mana. Sekolah, kampus, geng motor sampai terorisme. Bunuh diri yang jelas jelas dilarang agama menjadi syah atas nama jihad.

Akibat formalisme pelajaran Agama maka setiap agama menjadi demikian eksklusifnya. Kalau tadinya disekolah yang berbasis agama masih disediakan mata pelajaran agama lain, maka sekarang ini mereka sudah menutup pintu menerima siswa beda agama. Karena selain ruwet dan mahal mencari guru agamanya juga repot lah ngatur sesuatu yang mereka tidak suka. Jika dahulu kita sering mendengar kalimat “bagi yang non muslim agar berdoa menurut agama dan kepercayaannya masing-masing” maka sekarang ini kalimat itu hanya dipakai oleh yang lasih waras saja. Kebanyakan sudah langsung memakai “mari kita berdoa semoga…….” semua dianggap satu agama. Akibatnya adalah agama minoritas jadi semakin malas bergabung dengan kegiatan sosial yang diperkirakan ada doanya. Mereka lebih cenderung bentuk komunitas sendiri. Semakain terpecah lah bangsa ini. Ini adalah hanya sebagian kecil dari formalisasi agama di sekolah.

Dengan keterbukaan yang semakin liar ini lalu siapa yang mengontrol materi pelajaran yang disampaikan oleh para guru agama dimanapun. Sangat mungkin terjadi ada guru agama yang dengan gamblang memasukan pengertian dan pemahamannya yang radikal kepada para siswa. Dia pikir itu adalah ibadah. Dia pikir itu adalah perjuangan. Dia tidak berpikir bahwa itu salah dan merusak pikiran siswa yang masih polos tersebut. Bukannya semua harus diawasi tetapi harus ada mekanisme sosial yang ada dimasyarakat untuk menyaring semua yang tidak baik tersebut. Tidak lain hanyalah jati diri itu sendiri.

Sesungguhnya radikalisme dan rusaknya segenap pikiran, moral dan akhlak segenap bangsa ini adalah kesalahan kita semua. Kesalahan bukan hanya pada pihak eksekutif dan legislatif saja, tetapi juga masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh budaya, tokoh agama. Kenapa mereka seperti hilang tanpa daya. Kenapa mereka seperti tidak pernah ada atau ada tetapi tiada. Sungguh berat mengembalikan kerusakan ini kearah yang benar lagi, tetapi kita harus memulainya. Mulailah tingkatkan komunikasi dengan anak-anak kita. Ajaklah mereka diskusi dengan santai tanpa pernah menggurui apalagi menyalahkan. Masukan ajaran agama, akhlak dan Pancasila dengan cara yang tepat sesuai sikon yang ada. Mulailah dari kita masing-masing. Tolonglah keluarga kita maka sesungguhnya kita menolong bangsa dan negara ini.

Sadarlah apa yang terjadi ini tidak semata-mata arus masuk aliran dan ajaran asing dengan secara alami, tidak dan tentu tidak. Dapat diyakinkan bahwa ada kekuatan besar yang berdana besar yang menyusupkan ajaran-ajarannya kedalam hidup dan kehidupan bangsa ini melalui kader dan agen-agennya. Sebagian dari mereka tidak sadar bahwa mereka adalah sudah menjadi agen dari kekuatan besar itu, mereka hanya merasa bahwa mereka semata-mata ilmiah dan normatif saja. Mereka bangga dengan predikat sebagai pejuang hak asasi, mereka bangga dengan sebutan ilmuwan, mereka bangga dengan sebutan modern. Mereka tidak sadar telah diperalat oleh kekuatan besar tersebut.

Kekuatan ini tidak menginginkan Indonesia maju dan sukses, gemah ripah low jinawi. Mereka akan terus membuat negeri ini semakin jauh jauh dari jati dirinya. Mereka akan terus membuat bangsa ini sibuk ngerusak diri sendiri. Mereka takut jika Indonesia bangkit maka mereka semua akan tergantikan oleh Pancasila yang mendunia. Mereka lupa bahwa gemah ripah loh jinawi adalah program alam semesta. Program yang pasti akan terjadi. Oleh karena itu mari kita mulai dari kita masing-masing untuk kembali kejati diri kita, Agama, Akhlak dan Pancasila untuk menangkal segala radikalisme dan segala kebobrokan….yakinlah kita akan berhasil….amiiiinn.

Comments are closed.