Home » BUDAYA, EMBUN PENYEJUK IMAN » Gaya hidup hedon..
Oct
21

Notonogoro.com

Jika kita kilas balik kehidupan bangsa ini sebelum dan pada saat awal kemerdekaan maka terasa sekali semangat hidup sederhana. Saling asah, asih dan asuh menjadi budaya kita. Gotong royong dan kerja bakti menjadi bagian dari hidup kita. Terasa sekali semangat kekeluargaan demikian kentalnya. Saling kunjung mengunjungi, saling mendo’akan , saling salam dan tegur sapa selalu dilakukan. Sepertinya tidak terbayangkan pada saat itu bahwa nilai yang luhur tersebut akan hilang dan digantikan oleh nilai dan budaya lain yang bertolak belakang. Sepertinya pada saat itu tidak terpikirkan bahwa kita akan hidup sangat individual dengan membuang kekeluargaan yang ada.

Ternyata semua itu sedikit demi sedikit telah terkikis dan benar tergantikan oleh nilai baru yang berakar bukan dari budaya luhur bangsa ini. memang sih generasi muda sekarang tidak merasakan semangat dan nilai lihur seperti disebut diatas secara langsung. Namun sebenarnya masih ada kesempatakan untuk melihat dan memnikmatinya di berbagai daerah khususnya dipedesaan. Masih ada nilai luhur tersebut dalam kehidupan sehari-hari walaupun sudah bercampur dengan nilai baru. Memang belum hilang total, tetapi sudhah berdampingan. Tentu dengan jalannya waktu nilai luhur ini akan hilang dan hanya nilai baru yang tersisa dan ada. Ini telah terjadi dibeberapa kota besar yang ada dinegeri ini.

Fakta nyata sekarang ini adalah gaya hidup Hedon. Hedon atau hedonism adalah satu ajaran atau pandangan yang menjadikan kesenangan dan kenikmatan hidup dunia menjadi tujuan hidup. Jelas ini ajaran yang sangat menuhankan dunia. Dunia adalah segala-galanya. Hanya dengan kaya raya lah akan tercapai kebahagiaan dan kenikmatan hidup. Apapun yang dimiliki harus dinikmati. Ini adalah harta saya dan terserah saya memakainya. Anda miskin adalah urusan anda dan saya kaya adalah urusan saya. Jelas sekali ini adalah nilai yang sangat bertentangan dengan budaya luhur bangsa ini.

Boleh saja kaya raya tetap dalam memanfaatkannya harus dengan bijak. Harus mempertimbangkan persaan dan situasi sekitar. Jangan sampai menimbulkan kecemburuan sosial dan jangan sampai menimbulkan berbagai fitnah. Tetapi apakah seperti itu faktanya? Tentu tidak. Sudah banyak diantara kita yang hidup bergelimang harta dan memamerkan hartanya semau hatinya. Mereka hidup dengan gaya hidup Hedon. Yang penting senang. Yang penting kenikmatan. Peduli syetan dengan orang lain.

Ada juga yang menyatakan bahwa mereka yang bergaya hidup hedon cenderung menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan. Tidak ada aturan agama dan tidak ada aturan Negara. Senang sama senang yang penting dapat uang. Halal dan haram sudah tidak ada. Gaya hidup hedon cenderung tidak mengenal halal dan haram. Kanapa? Karena mereka yang masih percaya ada halal dan haram maka biasanya akan lebih berhati-hati dalam menjalankan hidupnya. Sementara yang lebih mengutamakan kenikmatan dunia jelas tidak mau dibatasi dengan halal dan haram. Justru yang haram yang lebih nikmat, tentu demikian pikiran mereka.

Kita lihat ada banyak anggota DPR dan para pejabat dinegara ini, termasuk pengusaha dan artis , yang hidup dengan gaya hedon ini. bukan hanya sang pejabat tetapi sudah merasuk dalam gaya hidup keluarga. Kalau keluarga sudah teracuni maka kita semua dapat memperkirakan isi kepala mereka seperti apa dan bagaimana mereka memandang hidup ini. kita tahu korupsi adalah salah satu cara untuk mendapatkan kekayaan. Kita tahu menyalah gunakan kekuasaan adalah cara paling tepat dan cepat untuk meraup kenikmatan dunia. Bukannya kita menuduh semua orang kaya atau kaum hedon mendapatkan hartanya dengan cara melanggar hukum. Tentu ada juga yang halal. Namun masalahnya tidak berhenti pada cara memdapatkannya tetapi juga cara menikmatinya. Ini adalah dua hal yang berkaitan. Gaya hidup hedon menuntuk kekayaan. Mereka yang mengejar kekayaan cenderung menghalalkan semua cara.

Jadi harus hati-hati. Disinilah diperlukan agama. Disinilah diperlukan budaya dan nilai luhur. Dunia bukanlah tujuan akhir. Dunia adalah tempat singgah sementara menuju yang kekal. Silahkan berlomab-lomab mengejar kekayaan tetapi harus dengan cara yang baik dan benar. Silahkan nikmati hidup dan kekayaan tetapi juga dengan cara yang baik, benar dan bijak.

Juga beribadahlan seikhlas dan sebanyak mungkin seolah akan meninggal esok hari….

, , , , , , ,

Comments are closed.