Home » Uncategorized » Awas banjir dan longsor
Nov
27

Notonogro.com

Tanda-tanda musim hujan telh ada. Bebapa kota seperti Jakarta, Bandung, Bogor sudah sesekali diguyur hujan. Belum besar tapi cukup untuk memberi sinyal datangnya musim hujan. Wajar jika kita senang dan bersyukur dengan datangnya musim hujan. Namu pada sisi lain, hujan sering kali datang dalam jumlah yag sangat besar dan lama. Ujungnya adalah banjir dan yang dikhawatirkan adalah bukanlah sekedar banjir biasa tetapi banjar bandang yang menerjang banyak wilayah. Banjir bandangp dapat dipastikan akan banyak membawa kesusahan dan bencana. Kita tahu sekarang ini negara tetangga Thailang sedang mengalami bencana banir yang cukup parang. Hampir separuh wilayahnya tertutup banjir. Banjir sudah berjalam beberapa minggu dan belum ad tanda akan segara berakhir.

Bagaimana dengan negara kita ini. Negara yang sudah menjadi langganan banjir dan bencana longsor khususnya di Jawa dan Sumatra. Mungkin daerah Jawa dan Sumatra ini yang paling banyak dosanya kepada alam. Sumber daya alam habis digerus tanpa henti. Hutan hilang, mata air mengering. Panas datang kering korantang. Hujan datang banjir dan longsor terjadi. Apakah kita sudah mendengar usaha pemerintah pusat dan daerah untuk berusaha keras melakukan tindakan preventif untuk mencegah banjir dan longsor ? setidaknya mengurangi dampak bencananya? Sepertinya tidak ada tuh. Semuanya berjalan seperti biasa saja. Tidak ada rencana dan aksi yang jelas untuk menghadapi musim hujan ini.

Sudah demikian bebelnya kita semua ini. Bencana sudah menjadi bagian dari bangsa ini. Akhirnya menjadi kebiasaan. Tidak ada yang harus dilakukan untuk menanggulanginya. Cukup hidup dengan normal dan siap sengsara jika bencana sudah datang. Pada saat itulah Tuhan disalahkan dengan mengatakan bahwa bencana ini adalah kehendak Tuhan dan tidak ada yang bisa menghalanginya. Sangat picik pikiran seperti itu. Kebodohan karena tidak tahu apa yang ahrus dilakukan ditumpahkan akibatnya dan tanggung jawabnya kepada Tuhan yang Maha pengasih dan Maha Penyayang.

Banjir dan longsor terjadi setiap tahun kok tidak dijadikan pelajaran untuk mencegahnya dikemudian hari. Andaikan ada pekerjaan yang dilakukan dengan uang rakyat maka tidak lebih dari hanya sekedar memperbaiki saluran saja. Mengeruk kotoran di selokan atau dikali dianggap cukup untuk menahan banjir. Aneh banget cara ini selalu dilakukan. Tidak ada satu rencana komprehensip dinegara ini untuk menjadikan banjir dan longsor sebagai musuh utama yang harus dihadapi secara bersama-sama juga.

Kita tidak menolak hujannya. Kita sangat bersyukur dengan hujan yang ada. Hanya dengan air lah kehidupan didunia ini berjalan. Yang kita harus siasati adalah bahwa air itu memiliki tenaga yang sangat dahsyat yang bisa menghancurkan apapun yang dilaluinya hanya dalam sekejap. Jadi jangan biarkan aor hujan menjadi air bah yang bertenaga dahsyat. Pecah dan alirkan sedemikian rupa sehingga tidak menutupi permukaan tanah yang dilaluinya. Air jika diperlakukan dengan baik dan benar akan sangat indah dan bersyahabat sekali dengan manusia. Cilakanha manusialah yang sulit untuk bersahabat dengan air. Air butuh akat pohon untuk tempat tinggal tetapi manusia menghancurkan pohon dan akar tempat tinggal air tersebut. Tanah menjadi lemah dan mudah tercerai berai. Air yang datang dari langit sudah tidak lagi menemui tempat tinggal yang memadai didalam tanah. Akhirnya air jadi lntang lantung tidak punya tempat tinggal. Akhirnya air berjalan semaunya dia sesuai dengan takdir jalannya air. Ajdilah banjir dan longsor dimana-mana,

Janganlah menyalahkan air apalagi menyalahkan Tuhan. Salahkanlah diri kita sendiri yang telah menghancurkan tempat tinggal air. Kitalah yang sangat bodoh dengan  tidak menyediakan jalan bagi air untuk menjalankan takdirnya.  Air akan segera datang tetapi kita masih saja santai tidak mau berbuat lebbih untuk menyediakan apa yang dibutuhkan oleh air. Maka siap-siaplah  menerima hujan dan air yang  kecewa akan berubah menjadi banjir dan longsor. Bencana datang dan terimalah dengan baik dan senang hati karena memang itulah yang kita harapkan.

Tanpa kita sadari akhirnya bangsa ini menjadi  senang dan selalu berharap datangnya bencana…..

Tuhan..kami memohon jangan jadikan kebiasaan tidak bersahabat dengan alam terus mengalir dalam darah anak cucu kami…Tuhan..kami memohon gantilah dengan semangat dan kerja keras untuk bersahabat dengan alam…alam adalah kami..kami adalah alam…

, , , , , , , , ,

Comments are closed.