Home » REFORMASI » Orblas
Aug
22

Orblas

Notonogoro.com

Bangsa ini telah melewati dua orde, yaitu orla atau orde lama dan orba atau orde baru. Orla disebut juga jaman pasca kemerdekaan dengan bung Karno sebagai pemimpinnya. Orla membuat dan mewariskan dasar dan pondasi bangsa ini. Orla menggali dan menngenalkan jari diri bangsa ini yaitu Pancasila. Sedangkan Orba membuat dan mewariskan pembangunan physik bangsa ini. Sekolah, jalan, listrik, gedung tinggi tumbuh dijaman ini. Termasuk didalamnya implementasi dan terus pemantapan jati diri bangsa Pancasila. Soal cara jangan kita debatkan tapi mari dilihat substansinya.

Sekarang bangsa ini ada pada jaman reformasi. Tetapi itu katanya. Jika kita lihat faktanya ternyata sangat tidak tepat disebutĀ  reformasi karena bangsa ini justru semakin repot masih. Justru lebih tepat era sekarang disebut dengan orblas atau orde kebablasan. Dasar dan pondasi bangsa dan negara banyak yang hilang. Legislatif demikian mendominasi dan bahkan sering bertindak seperti kekanakan. Ekesekutif menjadi demikian lemahnya. Penegakan hukum menjadi semakin abu-abu walaupun selalu dikumandangkan keadilan setiap harinya. Banyak unit tumpang tindih. Semua sepertinya bebas melakukan apa saja atas nama kebebasan dan demokrasi. Etika sudah jauh dari perbuatan. Pancasila semakin tidak terdengar.

Bahkan ada yang bilang orblas ini lebih gelap dari pada jaman perjuangan dahulu. Pada jaman itu target masih jelas. Kekompakan dan persatuan sangat kental. Etika dan saling menghargai menjadi darah kehidupan bangsa ini. Kerja akti dan gotong royong adalah budaya kita. Semua itu hilang siran jaman ini. Pada jaman orba nilai-nilai luhur tersebut masih ada dan tumbuh. Tetapi mendadak menguap tanpa jejak pada orblas ini.

Setiap pejabat sudah semakin jauh dari dedikasi demi rakyat sebagai abdi negara dan rakyatnya. Jabatan telah memberikan hak istimewa bagi yang menjabat. Pejabat menjadi sangat wjib dihargai seperti raja. Kekuasaan menjadi mutlak milik sang pejabat. Pejabat bisa melakukan apa saja dmei keuntungan pribadi dan kelompoknya. Negara telah dibagi-bagi menjadi berbagai macam kelompok. Sentimen kedaerahan tumbuh menngalahkan NKRI.

Daerah tingkat II menjadi lebih berkuasa dari tingkat 1. Bupat dan walikota tidak tunduk pada gubernur yang sudah menjadi banci sekarang ini. Akibatnya tumbuh kekerasan lokal dimana-mana. Tidak jarang masyarakat melakukan tindakan hukum sendiri atas dasar kepentingan pemikiran mereka. Polisi diacak-acak dan dibakar. Berkelahi dengan tentara. Semua terjadi dimana-mana.

Kepentingan negara menjadi nomor 16. Kepentinan daerah menjadi paling utama. Daerah dikavling kavling sedemikian rupa. Yang kalah lalu membuat daerah baru agar bisa menjadi raja didaerah baru tersebut. Hutan dan kekayaan alam dijual semaunya. Rakyat diusir oleh pemilik modal. Rakyat menjadi orang asing didaerahnya sendiri. Investor menjadi raja wilayah, raja hutan.

Sungguh sangat kebablasan jaman sekarang ini. Anehnya para pencetusnya tetap tidak pernah melakukan evaluasi untuk menarik kembali negara ini kejalan yang benar. Mereka masih nyaman dengan julukan bapak reformasi. Mereka tidak sadar telah meletakan dasar-dasar kebablasan untuk kehancuran negara ini. Hanya ada satu orang yang sudah eling dan menyatakan otonomi daerah telah kebablasan dan mutlak dilakukan moratorium. Sedangkan yang lainnya hilang dan sepertinya mereka tidak berani tampil untuk melakukan koreksi.

Bangsa ini sendiri yang seharusnya bangun memperbaiki diri. Jelas kita butuh pemimpin sejati untuk menyelamatkan bangsa dan negara ini. Tetapi kok sepertinya masih belum muncul pemimpin tersebut. Yang pasti manusia pemimpin tersebut bukanlah stock lama. Dia harus stock baru.

Tuhan…kami memohon..berikan kekuatan dan petunjuk kepada kami untuk menyudahi orblas ini. Kami memohon bantuan dan bimbingan MU untuk kembali kejalan yang benar….

, , , , , , , , ,

Comments are closed.