Home » POLITIK » Jadi politikus bisa bikin miskin? Nggak tuh
Aug
24

Notonogoro.com

Belum ada ceritanya dinegara ini ada politikus aktif, entah di DPRD, DPR,  dan pemerintahan, yang hidupnya miskin. Atau tepatnya jatuh miskin karena jadi politikus.  Yang ada hanyalah cerita sukses semua poiitikus tersebut.  Bisa jadi orang terhormat ditempatnya masing-masing. Disegani atau ditakuti karena jabatannya tersebut. Tidak  jarang kita mendengar ada ucapan \”saya anggota DPR\”, \”saya orang terhormat\” dan sebagainya. Pokoknya mereka para politikus aktif tersebut  merasa sebagai orang super dinegara ini. Tentu ada satu dua orang diantara mereka yang low profile. Tetapi karena jumlahnya yang sangat sedikit tersebut jadi tidak kelihatan.

Kita semua juga sudah tahu bahwa untuk menjadi anggota legislatif tidaklah sedikit biaya yang dikeluarkan. Jadi semacam investasi awal yang mereka  lakukan untuk mendapatkan hasil yang lebih besar. Selain mereka harus setor ke partrai pendukung nya juga mereka harus membiayai semua keperluan kampanyenya. Tidak jarang mereka menjual atau berhutang untuk mendapatkan posisi yang diinginkan. Ini tidak hanya untuk anggota legislatif saja tetapi untuk semua jabatan publik yang tersedia di masyarakat.

Kondisi ini jelas sangat berbeda  dengan dinegara maju. Dana yang mereka peroleh adalah dari para pendukungnya. Jadi mereka mempunyai tim solid yang memanage setiap langkah para politikus. Hasil akhir dari cara maju seperti ini adalah mereka benar-benar berurat akar kepada pemilihnya. Mereka tidak akan main-main dengan para pendukungnya. Meleset sedikit atau cacat maka habislah karir politiknya. Tidak ada yang mendukung berarti tidak ada dana masuk. Tidak ada dana berarti tidak ada mobilitas yang pada akhirnya semakin jauh dari pendukungnya.

Sangat terbalik memang dengan yang terjadi dinegara ini.  Politikus disini memnag harus berusaha sendiri. Harus punya modal sendiri. Kebanyakan dari mereka memang hanya bermodal uang dan bukan bermodal idealisme dan pendidikan tinggi. Rata-rata mereka hanya berpendidikan SMA. Bahkan banyak beredar isu bahwa ada partai yang anggota legislatifnya adalah para preman jalanan yang direkruit dengan cara instan. Pokoknya punya pengaruh diwilayah sekitar maka sudah cukup untuk dijadikan calon. Selebihnya ya uang nya ada atau tidak.

Sangat sedikit politikus yang bermodal pendidikan tinggi. Kalau punya pendidikan tinggi ngapain juga jadi politikus. Karena ilmunya tinggi maka dia jadi tahu apa itu politikus sekarang ini. Bisa mencoreng nama baik dan pendidikannya sendiri.  Ya akhirnya mau tidak mau kualitas politiikus dinegara ini seperti yang ada sekarfang ini, selalu mengutamakan kepentingan pribadi dan partainya dibalik mantra agung \”demi rakyat\”. Ya memang demikian, rakyat hanya dijadikan bemper saja. Sangat tidak ada malunya mengatas namakan rakyat untuk kepentingan pribadi dan golongannya.

Dengan situasi yang seperti itu maka akhirnya isi kepala mereka tidak lebih dari pada uang dan uang. Selama berhubungan dengan posisi dan jabatan mereka maka itu semua bisa dijadikan mesin uang. Kalau soal fasilitas yang mereka dapatkan kita semua sudah tahu. Sangat tidak sesuai dengan hasil yang mereka berikan. Besar ongkos dari hasil. Rakyat tentu rugi. Kerugian yang kebih besar yang diderita oleh rakyat adalah menguapnya uang rakyat dalam APBN.  Anggaran ini adalah pohon uang yang paling subur bagi para politikus  dan posisinya sangat sentral. Tidak ada kegiatan yang tidak berhubungan dengan APBN ini. Disinilah mereka kebanyakan membuat link satu dengan yang lainnya. Eksekutif dan legisilatif sangat kompak dalam urusan APBN ini. Mulai dari daerah sampai kepusat. Mulai dari usulan sampai  persetujuan anggaran. Mulai dari pencairan sampai pemanfaatan. Semua titik ada syetannya.  Titik itu adalah uang. Jadi mereka semua sudah berkomitmen dari awal siapa mendapat apa. Tidak ada yang berkhianat dalam mafia anggaran ini. Semua kompak dan saling mendukung. Memang sih katanya ada yang membayar uang DP dahulu untuk bisa disetujui, jadi bayangkan demikian kacaunya situasi dinegara ini.

Dengan cara praktek seperti itu maka mana ada politikus yang miskin. Sama juga dengan  pejabat publik lainnya. Uang selalu masuk kekantong mereka melalui berbagai sumber.  Selama bersinggungan dengan posisi dan jabatan mereka maka itu adalah sumber uang. Jadi tidak ada ceritanya ada politikus baik pusat maupun daerah yang jatuh miskin. Yang ada mereka menjadi mendadak kaya raya. Mobil dan rumah baru hampir setiap tahun bisa mereka peroleh. Entah sampai kapan kondisi ini terus terjadi.

Mudah-mudahan pada pemilu 2014 ada kekuatan besar dinegara ini yang dapat menyatukan rakyat untuk memilih yang terbaik bagi bangsa dan negara. …

, , , , , , , ,

Comments are closed.