Home » EKONOMI, POLITIK » Industri Vs pertanian
Oct
03

Industri Vs pertanian

Notonogoro.com

Sepertinya sampai dengan sekarang ini di setiap sekolah selalu disebutkan  bahwa negara Indonesia adalah negara Agraris, kaya akan sumber alam. Ajaran ini tidak pernah dicabut dan terus di cekokin ke para siswa. Tetapi apakah masih seperti kondisi negara ini? Sepertinya sudah banyak yang berubah. Memang benar Indonesia masih sebagai negara agraris tetapi apakah produksi alamnya sesuai dengan sebutan tersebut adalah fakta lain yang seharusnya disampaikan juga. janganlah menina bobokan anak-anak kita dengan sebutan indah tersebut tanpa menyampaikan fakta lain yang menyedihkan. Tentunya harus diolah sedemikian rupa informasinya sehingga dapat menimbulkan semangat untuk membangun negara dan menggali kekayaan alam kita dengan baik dan benar.

Kita bisa tahu dan lihat sendiri didaerah yang dulunya sebagai persawahan penghasil beras. Lumbung padi begitulah sebutannya. Daerah tersebut telah berubah cukup pesat menjadi kawasan industri. Sawah berubah fungsi menjadi pabrik dan gudang. Padi telah banyak hilang dan berganti dengan keramik, motor, mobil, elekronik dan sebagainya. Kawasan yang tadinya hijau dan sejuk dipandang kini telah berubah menjadi panas dan gersang. Tidak ada lagi irigrasi yang mengalir untuk mengairi sawah yang demikian luasnya.

Irigrasi telah dibangun oleh pemerintahan Orba dengan biaya yang tidak sedikit dan terbukti memberikan hasil yang maksimal sehingga kita berhasil swasembada beras. Kini semua hancur berubah fungsi atas nama reformasi. Atas nama pembangunan dan tuntutan zaman banyak irigrasi yang hancur dan swah yang ghoib. Swasembada beras menajdi hilang dan kita menjadi pengimpor beras kembali. Ini terjadi sejak zaman reformasi. Sungguh nyebelin reformasi yang kebablasan ini.

Atas nama pembangunan, demokrasi, otonomi daerah negara ini dikavling-kavling sedemikian rupa. Namun apa hasilnya bagi rakyat? Tetap saja daerah tersebut jalan ditempat dan bahkan mundur dan gagal dalam otonomi daerah. Tetap saja rakyat diukur kesejateraannya hanya dengan UMR. Tetap saja sekolah mahal. tetap saja banyak pengemis dijalanan. Keadilan dan pemerataan pembanguan masih dan semakin timpang saja. Rakyat tetap sulit mendapatkan hasil dari reformasi ini.

Keberhasilan pembangunan diukur dengan banyaknya gedung dan bukan dengan kesejahteraan rakyatnya. Gedung hanya memberikan keuntungan bagi pemilik modal dan pejabat korup saja. Rakyat tetap saja susah. Apakah hasil dari pembangunan industri dan perumahan tersebut telah mensejahterakan para petani yang awalnya adalah pemilik tanah tersebut? Jelas tidak. Mereka sekarang banyak yang kehilangan pekerjaan atau bekerja serabutan. Apa ada petani yang menjadi karyawan? Paling top jadi satpam dan itupun hanya satu dua orang saja.

Kenapa pertanian selalu dikalahkan dan dihancurkan demi slogan pembangunan. Apakah pejabat tersebut tidak melihat bahwa banyak negara yang rakyatnya makmur dari pertanian. Petani menjadi profesi yang menguntungkan dan membanggakan. Kenapa tidak ada satupun pejabat yang mempunyai komitmen untuk membangun Indonesia berbasis Agraris industri. Kenapa tidak ada yang tergerak hatinya untuk membumi demi rakyat. Siapa bilang prtanian, perkebunan dan perikanan darat tidak bisa menjadi industri yang besar dan muilti nasional. Hanya orang bodoh yang bilang seperti itu. Memangnya tuh orang nggak pernah makan kali ya…jadi ngak bisa melihat darimana asal makanan dan minuman tersebut.

Memang ada usaha pemerintah untuk membuka persawahan baru. Tapi kapan dan seberapa cepat dibandingkan dengan hilangnya sawah tersebut. Kalau sudah melibatkan pemodal besar maka yang ada KKN lagi. dimana ada uang disitu ada proyek. Dimana ada proyek disitu ada KKN. Buanglah sifat koruptis tersebut dan bangunlah industri agraris negara ini dengan sebaik-baiknya.

Dimana tuh para sarjana pertanian, sarjana kehutatan, sarjana perikanan… ngapain sih kok Cuma jadi sales obat-obatan ternak ayam…Cuma jadi antek industri kimia…mau jadi apa lu..bangun dong idealisme saudara untuk membangun bidang dimana elu jadi sarjananya…….

, , , , , , , , , , ,

Comments are closed.