Home » EKONOMI, POLITIK » Cara pandang yang sempit
Aug
26
Notonogoro.com

Merdeka tahun 1945 dan sekarang tahun 2011 jadi sudah 66 tahun merdeka bangsa dan negara ini. Kalau bicara usia manusia maka usia 66 tahun mah sudah bisa dibilang tua sekali. Positipnya adalah matang sekali. Beriman, bertaqwandan selalu menjadi panutan karena sudah kenyang makan asam dan gara kehidupan. Tentunya sudah tidak ada lagi kelakuan seperti anak kecil. Anak kecil bisa kita anggap sebagai maunya nggak jelas, hari ini minta hari ini harus ada, sekarang benci besok senang. Pokonya nggak jelas dan bisa berubah-rubah. Lalu bagaimana dengan bangsa dan negara ini. Apa termasuk dewasa dan matang atau masih seperti anak kecil.

Yuk kita lihat sama-sama tetapi tidak semuanya karena bisa panjang sekali dan cape mata kita ngelihat fakta yang ada. Listrik masih masalah, antrian penyambungan baru masih jutaan, byerpet masih terjadi setiap hari. Stabilitas tegangan masih turun naik. Pencurian listrik masih merajalela yang bekerja sama dengan oknum PLN. 66 tahun masih belum beres juga ngurus listrik jadi mau dibilang apa ya….

Air PAM masih amburadul, kadang-kadang ngalir seringkali mati. Tidak semua wilayah ada air PAM nya. kualitas air masih ajaib, sering keruh,bau dan ada makhluk hidupnya. Kebocoran pipa air masih sering terjadi. Nggak pake air tetapi ada tagihan pemakaian air. 66 tahun masih belum juga bisa menyediakan air bersih dan sehat untuk warganya. Telekomunikasi memang sudah banyak kemajuan tetapi dengan usia 66 tahun seharusnya kita sudah punya nasional broadband. Nggak ada ceritanya internet lemot. Nggak ada ceritanya sulit dapat akses internet. Seharusnya telekomunikasi sudah menjadi pendukung utama pendidikan dan pemanfaatan kemajuan teknologi lainnya.

Koperasi semakin jauh dari kehidupan ekonomi padahal kita selalu gembar gembor tentang ekonomi kerakyatan. Mati suri tuh koperasi. Kita sudah pada ngerti kalau sektor informal yang justru kuat bertahan pada saat kasus moneter dahulu, kok tetap saja tidak ada gerakan menjadikan koperasi dan sektor informal sebagai soko guru perekonomian negara ini. Pembabatan hutan masih liar dan menyedihkan, banjir dan  longsor dimana-mana tetapi tetap saja semua berjalan dengan seenaknya. Demi ekonomi maka hutan harus dibabat. Kalau baik dan benaer sih ok saja tetapi ini kan liar dan liar sekali.

Pokoknya banyak sekali sifat anak kecil yang masih terjadi diusia 66 tahun. Hampir bisa dikatakan maunya apa tidak jelas. Ganti pemimpin ganti kebijakan. Setiap pemimpin merasa yang paling benar. Rombak sana rombak sini. Akhirnya tidak jelas apa yang dikerjakan dan apa hasilnya. Ini semua karena memang mutlak diakibatkan oleh cara pandang yang sangat sempit sekali. Cara pandang sampai dengan saat ini, real banget loh ini, adalah hanya sebatas masa “kekusaaan saya saja”. Kalau sudah berbasis kekuasaan maka yang ada hanya sebatas penciptaan proyek dan proyek. Dimana ada proyek disitu ada KKN yang menyedot rata-rata30% anggaran proyek. Dahulu ada GBHN dan jauh lebih baik sebagai pegangan dan arah pembangunan kita untuk sekian puluh tahun kedepan. Hasilnya kita bisa sama-sama tahu dan nikmati, pikir positip ya…,  Sekarang kita tidak punya kompas pembangunan. Pembangunan berjalan sesuai sang penguasa maunya apa dan dapat apa. Sangat menyedihkan dalam usia 66 tahun ini masih saja seperti ini kondisi kita.

Kalau kita memiliki cara pandang yang luas maka masalah ajaib ini pasti tidak akan terjadi. Nggak usah muluk-muluk deh, sederhana saja. Misalnya: pasokan dan kualitas listrik harus sempurna 10 tahun yang akan datang. Air bersih untuk warga setiap propinsi tersedia dengan baik pada 5 tahun yang akan datang. Transportasi di propinsi besar tersedia dengan nyaman 57 tahun mendatang. Artinya semua ini ada konsep dan strategi pencapaiannya. Masukan dalam undang-undang. Buat unit apapun namanya untuk implementasi hal tersebut. Selalu ada payung hukum strategi pembangunan bangsa ini. Skalanya besar atau kecil terserah saja, yang penting ada strategi dan komitmen untuk melaksanakan itu karena disuruh oleh undang-undang. Siapapun pemimpinnya, baik pusat dan daerah, pasti akan melaksanakan udang-udang tersebut, karena yang melaksanakan pembangunan tersebut adalah unit khusus tersebut. Setelah semua selesai dan terimplementasi maka diserahkan di unit operasional di daerah atau pusat untuk menjalankan dan merawatnya.

Intinya adalah harus ada strategi pembangunan setiap sektor yang dijamin tidak terpengaruh oleh riuhnya politik dan pergantian pemimpin. Cara ini yang dipakai oleh negara-negara maju atau berkembang tetapi waras, seperti Jepang, China, Singapur, Malaysia, kalau negara eropa dan Amerika sih jangan ditanya lagi tentang konsep dan strategi pembangunannya.

Cara pandang sempit, kuno dan menyedihkan ini harus diganti dengan cara pandang jauh kedepan, kokoh dan berawawasan nusantara. Kapan hal ini bisa terjadi…. ya gimana ya..yang pasti bukan dengan pemerintahan sekarang…ya kita tunggu saja pemimpin sejati datang dan membangun bangsa dan negara ini dengan sebaik-baiknya sesuai cita-cita proklamasi.

 

, , , ,

Comments are closed.