Home » BUDAYA, EKONOMI, POLITIK, SOSIAL » Cara pandang \”Indonesia\” (1)
Aug
25

notonogoro.com

Banyak yang bilang sekarang ini bahwa kita sebagai bangsa telah kehilangan jati diri dan nasionalisme kebangsaan. Memang sangat ironis kondisi ini terjadi pada era yang katanya reformasi ini (sekali lagi terbukti bahwa sekarang ini bukan era reformasi tetapi report masih). Pada jaman orba justru ada usaha terus menerus untuk menjaga dan mengamalkan Pancasila. Salah atau tidak cara yang ditempuh orba adalah hal lain, yang penting ada kesadaran penuh pemimpin bangsa untuk terus menjadikan Pancasila sebagai jati diri bangsa dan dasar nasionalisme kita. Sekarang ini justru sebaliknya, Pancasila entah ada dimana, tidak ada lagi yang sibuk berbicara tentang Pancasila. Hasilnya?…ya seperti yang sekarang ini terjadi.

Siapapun pasti akan tersinggung jika dikatakan tidak punya rasa nasionalisme kebangsaan. Siapapun pejabat akan marah jika disebutkan hanya sibuk ngurusin urusannya sendiri tanpa mau melihat aspek lebih luas lagi. Wajar sih kalo pada nggak nerima dibilang seperti itu. Tapi ada fakta yang tidak bisa terbantahkan oleh siapapun. Setidaknya menurut orang kecil fakta tersebut sudah cukup untuk menyatakan bahwa pemerintah tidak kompak dan sibuk dengan angka-angka makro yang tidak dimengerti oleh kebanyakan rakyat. Contohnya yang paling anyar adalah anjloknya harga bawang merah karena diterjang oleh import bawang merah kepasar domestik kita.

Apakah salah kalau kita bilang bodoh siapapun yang terlibat dalam urusan ini dipemerintahan. Kalau memang bawang dan cabe pernah mahal ¬†harganya… ya.. mbok jangan serta merta minta bantuan tentara bawang dan cabe asing dong untuk menyerang produk bangsa sendiri. Andaikan karena terpaksa..ya..mbok..dimonitor dong. Kalau sudah normal yang tentara asing tersebut langsung diusir lagi. Jangan malah bikin pangkalan asing untuk tentara bawang dan cabe asing. Akibatnya kan petani bawang kita semakin terpukul dan selalu salah dan disalahkan terus tanpa ada yang membantu mencarikan solusi terbaik jangka panjang.

Ngurusin bawangnya kok ruwet banget sih…dimana tuh mentri pertanian dan mentri perdagangan. Apa nggak pernah dibahas dalam rapat koordinasi kementrian atau rapat koordinasi tentang ketahanan pangan nasional?. Apa sih yang elu omongin kalo lagi rapat. Pepesan kosong, nasi bakar, sambel cibiuk atau pepesan ikan peda???!!! Negara yang merdeka dari tahubn 1945 kok sampe gini hari masih nggak bisa ngurus bawang dan cabe. Apalagi kalo ditambah beras, tepung dan gula pasir. Waduhhh makin o\’on luuu…

Mbok ya dirubah dong wawasan atau cara pandangnya. Semua mutlak diperuntukan untuk kepentingan bangsa dan negara. Baik pertaniannya, industrinya dan tentu juga pelakunya yaitu para petani tersebut. Buat dong rencana jangka panjang tentang pertanian Indonesia yang katanya negara agraris ini. Daerah mana yang akan menjadi lumbung bawang, lumbung cabe, lumbung padi dan sebagainya. Laksanakan dengan penuh tanggung jawab dan komitmen yang tinggi. Evaluasi dan monitor terus proyek pembangunan ini. Kalau emang pada waras dan pinter mah pasti berhasil kok, petani hidupnya menjadi lebih layak, konsumen tetap bisa membeli dengan harga keekonomian yang tepat, kalau ada lebih kan bisa dimasukan ke pasar-pasar modern kelas tinggi, kalau masih lebih juga wah hebat looo kan bisa di ekspor.

Indonesia akan dikenal sebagai negara pengekspor hasil pertanian 5 besar dunia. Waduh ngimpi kali yeee…wajar kok..kan kita negara agraris dan kaya potensi alamnya. Jasdi jelas mungkin saja hal itu kita capai. Yang penting sekarang ini adalah cara pandang peminpin kita yang harus dirubah. Mereka memang orang-orang pintar tetapi bukan manusia bijak yang dibutuhkan oleh bangsa ini. Manusia bijak berjati diri Indonesia memang masih diproduksi dalam jumlah yang sangat sedikit dan itupun masih dalam industri rumahan, jadi masih merupakan produk langka. Hanya dengan manusi bijak berjati diri Indonesia sajalah wawasan dan cara pandang segenap masyarakat akan berubah kearah pandang para leluhur pendiri bangsa ini.

Tidak dengan orang-orang sekarang ini yang sibuk sekolah otak tapi miskin kekayaan hati. Maka jadilan seperti yang sekarang ini. Sibuk ngurus kepentingan dan citra diri sendiri dengan mengatas namakan rakyat tetapi justru menyengsarakan rakyat. Mereka sibuk bagi-bagi order proyek, mulai dari ekspor garam, bawang, cabe, beras, gula, tepung dan sebagainya….mereka memang berhasil memperkaya pribadi, keluarga dan kelompok mereka.

Kita tunggu saja datangnya para pemimpin sejati kita…..manusia bijak berjati diri Indonesia…

, , , , , , , ,

Comments are closed.