Home » EMBUN PENYEJUK IMAN, REFORMASI, SOSIAL » Stop open house
Jun
23

Notonogoro.com

Segenap umat Islam didunia ini sangat menantikan yang namanya hari raya Iedul Fitri. Hari raya kemenangan. Hari raya kembali ke fitrahnya. Semua suka cita tanpa kecuali. Berlaku tidak hanya di Indonesia saja,  tetapi diseluruh dunia dimana ada umat Islam disitu ada kegembiraan dan suka cita dalam Iedul Fitri. Hal yang paling besar dalam perayaan hari raya ini adalah saling memaafkan satu dengan yang lainnya. Yang muda mendahului berkunjung dan memohon maaf kepada yang lebih tua. Apalagi yang namanya orang tua yang sudah pasti menjadi titik temu semua keluarga besar, anak dan cucunya. Maka dari itu ada laku budaya yang sangat fenomenal di Indonesia ini yaitu ritual pulang mudik untuk berhari raya bersama orang tua dan sanak keluarga dikampung. Hal ini tidak bisa tergantikan oleh apapun. Pada intinya semua yang merayakan hari raya ini menginginkan berkumpul bersama orang tua, keluarga dan sanak saudaranya tanpa ada gangguan apapun. Fokus hanya pada saling memaafkan dan silaturahmi bersama keluarga dan kerabat.

Namun di Indonesia ini ada satu lagi ritual yang berbau kerajaan atau berbau feodal. Apa itu? yaitu acara halal bihalal selepas Sholat Ied yang dilakukan oleh bawahan kepada atasannya pada level tertentu. Semakin tinggi atasan maka semakin wajib didatangi untuk bersalaman pada hari raya pertama tersebut. Kegiatan ini akhirnya dikenal dan terkenal dengan sebutan open house halal bihalal. Pokoknya pada hari pertama selepas sholat Ied tersebut para bawahan level tertentu sibuk mengunjungi atasannya dimana dia melakukan open house. Setelah mengunjungi berbagai atasan tersebut maka giliran tiba bagi “bawahan yang atasan” ini untuk melakukan hal yang sama yaitu open house di rumahnya. Anak buah level tertentu pada berdatangan kerumah bawahan yang atasan ini. Terus saja berputar sesuai dengan level jabatan masing-masing.

Mereka para bawahan yang atasan tersebut mau tidak mau, suka tidak suka, melakukan hal tersebut dengan meninggalkan keluarganya. Atau bahasa lainnya adalah menomor duakan silaturahmi didalam keluarga dan saudaranya. mengunjungi atasan pada hari pertama adalah urusan dinas yang tidak bisa dicuekin. Wajib datang. Coba aja kalau berani tidak datang dengan alasan yang tidak jelas maka siap-siap saja ya…

Ini memang budaya tetapi lebih terasa seperti budaya kerajaan dimana raja harus dihormati dan dinomor satukan segala sesuatunya. Sebelum silaturahmi ke tempat lain maka wajib silaturahmi di rumah raja. Rajapun akan merasa senang dan bangga jika banyak bawahannya yang datang menemui mereka. Dari konsep ini maka untuk jabatan tertentu, aktifitas halal bihalalnya diperluas dengan menerima rakyat atau masyarakat biasa untuk datang dan salaman kepada raja tersebut. Itulah yang akhirnya atifitas tersebut disebut dengan open house untuk mendekatkan diri dengan rakyatnya…

Apa iya harus seperti itu? harusnya libur ya libur dong ya. Lebaran atau Iedul Fitri lakukanlah bersama keluarga terdekat setelah sholat Ied. Bukan malah berkunjung kepada orang lain. Keluarga adalah nomor satu. Siapapun atasan seharusnya biasa-biasa saja dan maklum jika ada bawahannya tidak datang pada hari pertama Iedul Fitri. Justru seharusnya atasan meminta kepada seluruhnya untuk menomor satukan keluarga dalam perayaan Iedul Fitri ini. Tidak boleh kelayaban kemana-mana setelah sholat Ied. Langsung lakukan acara saling memaafkan didalam keluarga masing-masing. Lupakan urusan pekerjaan, lupakan urusan status, lupakan urusan takut. Ini adalah hari raya ku dan aku harus merayakannya segembira mungkin bersama keluarga ku. Lakukan perayaan dimana masing-masing berada. Dikampung ya lakukan dikampung. Dirumah ya lakukan dirumah. kemudian meluas kekerabat dan tetangga ya lakukan karena memang begitu seharusnya. Merdeka dan bahagia…

Satu hal lagi yang juga kurang baik dilihat dari sisi kinerja pegawai atau karyawan. Melakukan halal bihalal pada hari pertama masuk kerja setelah libur bersama yang panjang. Yang udah udah sih hari pertama ini tidak efektif karena disibukan oleh acara halal bihalal tersebut apapun bentuknya. Bisa saja pada satu minggu pertama setelah masuk kerja adalah masa yang kurang produktif karena semua masih sibuk salam-salaman dan saling cerita pengalaman masing-masing. Ini memang sudah menjadi kebiasan ditengah masyarakat. Tidak ada yang berani memprotes hal ini. Inilah budaya kita…

Apakah mau seperti ini terus atau mau berubah menjadi lebih baik dan produktif? Kalau masih mau tetap seperti yang ada sekarang ya silahkan saja. Tetapi kalau mau berubah menuju Indonesia lebih baik ya silahkan berubah…

Stop yang namanya open house pada semua level. Biarkan semua merayakan  hari kemenangan ini sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing di tempat masing-masing. Kemudian tentukan kapan dirayakan halal bihalal ditempat kerja. Apakah hari pertama masuk kerja dan berlaku seluruh Indonesia maka lakukan itu secara serentak kemudian stop acara Halal bihalal lagi pada tanggal lainnya. Fokus kembali pada kerja. Aturan tetap saja diberlakukan bagi pegawai dan karyawan tidak masuk pada hari pertama masuk kerja setelah liburan Lebaran atau Iedul Fitri dengan alasan karena hanya acara halal bihalal saja. No…tetap harus masuk dan tetap harus dihukum bagi yang tidak masuk.

Dengan cara ini, maka semua pihak bisa merayakan Iedul Fitri dengan sebaik-baiknya dan Indonesia juga tidak kehilangan waktu produktif….

kalau mau bikin open house maka lakukanlah secara pribadi di waktu pribadi. Misalnya pada hari libur satu kali dalam sebulan lakukan open house. Tidak harus pada hari raya saja. Pokoknya dekat dengan rakyat… atur waktunya hanya 6 jam saja misalnya… kalau banyak yang mau hadir ya jadwal saja setiap bulannya.. hal ini justru lebih sering dan lebih dekat dengan rakyat tanpa merugikan siapa-siapa… Yang ada adalah rakyat senang dan bahagia bisa bertemu dengan pimpinannya setahun dua  belas kali…

Berani kah berubah?……

jadilah bangsa yang saling menghargai…

jadilah bangsa yang disiplin…

jadilah bangsa yang produktif…

, , , , , ,

Comments are closed.