Home » EMBUN PENYEJUK IMAN, SOSIAL » Galak kompensasi
Apr
04

NOTONOGORO.COM

sebagian besar kita tentu pernah mengalami atau setidaknya mengetahui ada banyak  pemimpin lelaki yang luar biasa galaknya. Baik dia RT, Lurah, Camat, Supervisor, manager, Direktur dan sebagainya. Siapa saja diajak berkelahi. Siapa saja disalahkan. Selalu merasa yang paling benar dan yang paling tahu. Selalu berpikir bahwa hanya dia yang bisa menyelesaikan semua masalah. Hanya dia yang berani. Gembor-gembor ngomong demokrasi tetapi kenyataannya siapa pun akan dia maki-maki. Teriak kemana-mana bahwa dia yang paling bisa menghargai bawahan tetapi kenyataannya semua bawahan selalu disalahkan kapan saja dan dimana saja. Makanya definisi yang paling tepat adalah “galak” ketimbang disebut “gila”, “killer” atau “serampangan. Tidak penting apa yang dia lakukan untuk organisasinya karena yang paling penting bagi pemimpin yang seperti ini adalah ruang ekspresi “siapa dirinya”. Tiada hari tanpa marah, tiada waktu tanpa memaki, tiada masa tanpa menyalahkah orang lain. Dia selalu merasa paling hebat tetapi sesungguhnya bagi mereka yang mengerti justru yang muncul adalah rasa iba atau kasihan kepada orang seperti ini.

Sesuatu yang sangat ekstrim tentu ada penyebabnya. Pasti ada latar belakangnya. Kenapa? karena sesungguhnya kita adalah “dimana kita” sebagaimana sebutan “kita adalah apa yang kita makan”. Lingkungan tempat kita berada,baik waktu masih bayi, anak kecil, remaja, dewasa sangatlah menentukan bentuk akhir kita dalam keseharian. Hidup dalam suasana pedesaan yang damai dan agamais akan membentuk remaja yang sopan dan santun. Hidup dalam lingkungan yang rusak dan keras maka sang remaja baik ini bisa berubah menjadi dewasa yang sangar dan jahat.

Hidup dalam keluarga yang orang tuanya selalu ribut setiap hari akan membentuk seorang anak menjadi dewasa yang sangat “defense”. Sangat melindungi dirinya sendiri dari segala sesuatu yang menurut dia akan merugikan dirinya. Siapapun yang bertentangan dengan dia maka akan dia lawan. Siapapun yang menyalahkan dia akan dia serang balik. Siapapun yang menasehati dia akan dia serang bahwa dia tidak perlu dinasehati. Siapapun yang memberi saran kepada dia maka dia akan lawan bahwa dia lebih tahu dari yang memberi saran. Pokoknya apapun yang dia rasa merugikan atau menyalahkan dia dengan dasar pikiran dia sendiri maka akan dia lawan. Kebalikannya, bagi siapapun yang mampu memberi ketenangan atau kebahagaiaan kepada dia walaupun itu adalah palsu atau gombal, maka dia akan memberikan apapun yang dia miliki tanpa pikir panjang. Yang penting seneng, titik.

Demikian juga nasib yang pemimpin galak tadi  pasti ada penyebabnya. Hanya bedanya, khusus untuk sang galak ini umumnya terjadi penyakit justru pada usia dewasa, setidaknya pada kisaran usia 30-45 tahun. Yang lebih seru lagi, penyakit galak tersebut adalah disebabkan oleh situasi didalam rumah tangganya. Mau tahu bagaimana sikon dalam rumah tangganya? Survey menunjukkan, jika seorang suami memiliki istri yang posisinya “lebih hebat” maka sang suami akan mencari kompensasi diluar rumah. Misalnya, sang istri jauh lebih pintar dalam hal akademis yang membuat sang suami merasa bukan apa-apa dimata istrinya,  maka sang suami akan galak luar biasa diluar rumah sebagai kompensasinya. Seorang istri yang lebih besar penghasilannya dan sang suami merasa minder maka dia akan galak luar biasa diluar rumah sebagai kompensasinya. Seorang istri yang selingkuh dan membuat sang suami tidak bisa melakukan apa-apa dan merasa terhina, maka sang suami akan galak luar biasa diluar rumah sebagai kompensasinya.

Jadi situasi dan kondisi didalam rumah yang membuat si suami merasa tidak berharga akan membuat sang suami mencari ruang bebas untuk mengekspresikan dirinya bahwa dia adalah suami yang hebat, suami yang kuat, suami yang pemimpin. Bentuk ekspresinya adalah tampil “galak”. Hanya dengan tampil galak luar biasa lah dia merasa bahwa dia suami yang hebat. Dia berharap istrinya tahu bahwa dia hebat dan dihargai orang lain. Namun kenyataannya setiap sampai dirumah maka dia kembali menjadi pecundang. Dia kembali menjadi bukan apa-apa. Terus seperti itu kehidupannya. Tentu penyakit ini tidak terjadi pada istri atau perempuan. Karena secara kodrat perempuan atau istri memang ada dibawah pengaruh suami, dimanapun.

Jadi jika suatu saat nanti, ketemu lagi dengan lelaki pemimpin yang galak maka silahkan cek ke rumahnya dan jangan heran kalau dirumah sang pemimpin akan lemah lembut tanpa galak sama sekali. Tetapi pastinya, sang pemimpin galak ini tidak akan pernah mau ada bawahannya yang mengunjungi dia dirumahnya. Sejuta cara akan dia pakai untuk menolak segala kunjungan karena hanya akan membuat dia semakin merasa kecil tak berguna. Kompensasinya? tentunya akan semakin galak.

Makanya kita harus selalu bersyukur atas apa yang telah terjadi, apa yang ada saat ini dan apa yang akan terjadi esok hari. Syukuri dan ikhlas kan bahwa semua adalah yang terbaik bagi kita. Jangan pernah melawan hukum alam. Jika istri lebih hebat dari suami maka sang istri harus bersyukur bahwa kehebatannya itu adalah kehebatan suaminya juga yang selalu mendoakan dan menjaga dia. Rezeki bisa datang dari mana saja dan bahkan dari tempat yang tidak terduga.

Sekali lagi,

jangan pernah melawan alam……

jangan pernah melawan zaman….

, , , , , , , , ,

Comments are closed.