Home » EMBUN PENYEJUK IMAN » Iman sebesar biji sawi
Feb
16

Notonogoro.com

Sebagian dari kita tidak membedakan antara percaya dengan iman. Percaya kepada para Nabi sama dengan beriman kepada para nabi. Demikian juga percaya kepada Tuhan dianggap sama dengan beriman kepada Tuhan. Dari sisi arti kata iman mungkin saja iman berarti percaya kepada sesuatu yang diimaninya tersebut. Namun sesungguhnya, jika didalami dari sisi ketuhanan maka sebenarnya iman dengan percaya jelas sangat berbeda. Percaya hanyalah sekedar percaya saja. Baik percaya karena melihat dengan mata kepala sendiri maupun  percaya karena yakin hal yang dipercayanya itu memang benar ada. Sedangkan Iman jauh lebih dalam dari sekedar percaya. Iman atau beriman terhadap sesuatu maknanya adalah apa yang diimaninya tersebut benar-benar mengalir dalam darah. Sebagai contoh, berimana kepada Tuhan, maka maknanya adalah dalam setiap langkah, laku, ucap dan pikir semata-mata karena Tuhan. Tuhan benar-benar menyelimuti diri ini. Karena Tuhan kita hidup, untuk Tuhan kita hidup,  bersama Tuhan kita hidup. Iman level inilah yang dimilik oleh para Guru spiritual jaman dahulu, Wali dan para Nabi serta Rasul. Kalau sudah memiliki iman kepada Tuhan maka tidak ada lagi yang perlu diragukan atau ditakuti. semua yang terjadi dan semua yang diterima disyukuri, diakui keberadaan dan kejadiannya serta dikembalikan lagi kepada Tuhan.

Apakah para Guru, Wali, Nabi dan Rasul pernah mundur dari apa yang dia perjuangakan? apakah mereka pernah ragu tentang apa yang harus dilakukan? apakah mereka pernah tidak percaya hasil akhir dari apa yang mereka lakukan? Sangat yakin bahwa mereka tidak pernah melakukan hal tersebut. Apa yang mereka tentukan sebagai target maka akan mereka lakukan apapun dengan focus dan penuh cinta sampai target tersebut tercapai. Tidak ada ketakutan dan keraguan sama sekali. Kenapa? karena mereka tahu bahwa Tuhan selalu menyelimuti dirinya, selalu ada berasamanya.

Apakah segenap kita mampu memiliki tingkat iman seperti mereka? atau tetap saja masih terbatas pada sekedar percaya kepada Tuhan. Tentunya kita tidak boleh diam ditempat. Kita harus terus belajar, berjuang untuk memiliki tingkat iman kepada Tuhan seperti mereka. Karena jika kita hanya terdiam pada posisi sekarang yang sekedar percaya kepada Tuhan maka besar kemungkinan kita akan selalu terpisah dengan Tuhan.

Kita akan selalu berpikir atau merasakan bahwa kita ada disini dan Tuhan ada disinggasanaNya. Kita dengan Tuhan sangat terpisah jauh. Itulah pikiran kuat yang selalu ada dalam segenap dari kita. wajar saja karena pengetahuan tersebut kita terima dari mereka yang juga melakukan hal yang sama. Percaya dan keyakinan kita kepada Tuhan semata-mata adalah hasil dari warisan belaka. kebanyakan kita berhenti disisi ini dan tidak menggali lebih dalam lagi.

Yang paling pasti sering kita lakukan adalah kita berdagang dengan Tuhan. Jika kita takut neraka maka kita tidak akan melakukan apa yang dilarang Tuhan. Jika kita ingin syurga maka kita akan melakukan apa yang diperintahkan Tuhan. Jika kita ingin rezeki maka kita akan melakukan doa pada dinihari dan bahkan ditempat khusus. Kita akan banyak melakukan berbagai ibadah yang mengingat dan memuji Tuhan agar Tuhan mengabulkan apa yang kita mohon kepada Tuhan. Seringkali kita tanpa disadari suka mengecilkan keAgungan Tuhan. Tuhan hanya siap menerima permohonan kita pada dini hari saja. Tuhan akan memberikan apa yang kita minta jika kita banyak memuji Tuhan. Intinya adalah lakukan sesuatu dahulu pada waktu tertentu kepada Tuhan jika ingin dikabulkan doa nya oleh Tuhan. Senangkan dahulu Tuhan baru Tuhan akan memberi.

Padahal Tuhan ada 24 jam sehari. Padahal Tuhan tidak pernah tidur. Padahal Tuhan tidak pernah minta bayaran. Padahal Tuhan Maha Pengasih. Padahal Tuhan Maha Penyayang. Padahal Tuhan Maha Kaya. Padahal Tuhan memberi sebelum diminta. Padahal Cinta Tuhan kepada hambanya tidaklah bersyarat. Padahal Tuhan tidak pernah ingkar janji. Lalu kenapa kita menciptakan dagang dengan Tuhan?

Dengan kita menciptakan perdagangan dengan Tuhan mencerminkan bahwa kita tidak mengimani Tuhan dan kita hanya percaya kepada Tuhan. Apa yang biasa kita lakukan kepada sesama kita, seperti merayu, memuji, memberi hadiah atau membayar, untuk mendapatkan sesuatu dari sesama kita tersebut, kita terapkan juga kepada Tuhan. Bergaul dengan Tuhan seharusnya berbeda dengan bergaul dengan sesama kita. Bergaul dengan Tuhan justru jauh lebih mudah ketimbang bergaul dengan sesama kita.

Bergaul dengan Tuhan hanya butuh Iman  bahwa Tuhan memang ada dan kita adalah ciptaannya. Ikhlas dalam setiap langkah, laku, ucap dan pikir kita. Syukuri apa yang ada dan ucapkan terima kasih kepada Tuhan. Kita selalu ingat Tuhan karena Tuhan selalu menyelimuti kita. Kita selalu memuji Tuhan karena kita benar-benar cinta kepada Tuhan. Dalam hidup ini kita hanya mengkultuskan satu saja yaitu Tuhan. Tidak ada yang boleh kita kultuskan dalam hidup ini kecuali Tuhan. Bermodal  cinta, syukur dan ikhlas kita akan merasakan betapa Agungnya Tuhan. Tidak boleh ada pamrih dalam bergaul dengan Tuhan.

Kalau kita punya Iman kepada Tuhan sebesar biji sawi sekalipun maka kita akan bahagia lahir dan bathin. Dengan iman sebesar biji sawi tersebut bersama dengan Tuhan kita ciptakan apa yang kita butuhkan. Tidak ada keraguan sama sekali. Tidak ada ketakutan sama sekali. Kenapa? karena hasil akhir sudah dijamin oleh Tuhan..

Inilah kehebatan para Wali, Nabi dan Rasul dalam beriman kepada Tuhan…

, , , , ,

Comments are closed.