Home » EMBUN PENYEJUK IMAN » Wafatnya sahabatku
Jan
22

Notonogoro.com

Dua minggu yang lalu saya ketemu dengan sahabat baik yang sudah beberapa bulan tidak ketemu, tidak saling kunjung dan juga tidak saling komunikasi via telpon.Dia adalah Dirut dan Direktur dua perusahaan swasta besar di Jakarta. Super senang dapat melepas rindu dengan sahabat yang sudah seperti saudara sendiri. Tidak ada yang berubah dalam cara kami ngobrol. Apa saja di obrolin, apa saja di omongin, apa saja bisa jadi bahan ketawaan, apa saja bisa jadi bahan ledekan, apa saja bisa jadi bahan nostalgia. Yang kami makan dan minumpun juga tidak berubah. Saya selalu dengan air putih dan dia selalu dengan kopi pahit dan rokok kreteknya. Masakan sunda dengan sambal pedas adalah makanan kesukaan kami. Ayam bakar, daun dan bunga pepaya plus lalapan sudah pasti masuk kedalam perut kami. Jika tidak ada makanan sunda maka sebagai gantinya adalah kentang dan ayam goreng. Bisa seabrek-abrek kami makan ayam goreng tersebut. Yang pasti selalu nambah. Ayam dan kentang goreng kami anggap sebagai cemilan nikmat. Setelah cukup kenyang kami masih lanjut dengan ngobrol ngalor ngidul dengan bebas merdeka. Senyum dan tawa selalu muncul dalam obrolin kami.

Diujung obrolan kami, sahabat baik tersebut tiba-tiba terdiam dan matanya teralihkan melihat seorang ibu berjilbab yang sepertinya ditemani oleh seorang wanita berjilbab yang menggandeng seorang anak lelaki yang cakep. Mungkin itu adalah anak perempuan dan cucu sang ibu tersebut. Mereka terlihat sangat bahagia…

“kenapa kang…inget ya..” saya tanya kedia karena istrinya sudah meninggal 5 tahun yang lalu dan sekarang dia tinggal ditemani oleh anak perempuan satu-satunya, satu cucu lelaki dan tentunya menantu yang seorang pengusaha muda yang syar’i banget.

“Iya kang bro..saya jadi inget almarhumah…” raut mukanya jelas mendadak berubah. Ada muncul kesedihan yang tidak bisa disembunyikan. Sinar matanya meredup, mulutnya tertutup tetapi sedikit tertarik. Ini adalah mimik sedih sejati, sedih asli yang diselimuti keikhlasan…sedih tapi ikhlas…

“Kang bro…” katanya lirih..mendadak suasana jadi serius, suasana yang tidak pernah kami alami…

“Sampai saat ini gue gak pernah melakukan Sholat dan puasa… Penuh dosa kali gue ya kang bro…”  memang benar sih dia tidak pernah melakukan dua hal tersebut. Tetapi dia sangat baik luar biasa. Tidak pernah marah, sangat dermawan, gede banget kalo nyumbang masjid dan anak yatim. Apalagi dia punya 3 anak yatim yag dia tanggung biaya hidupnya sampai ke tiga anak yatim ini sudah bekerja dan berkeluarga. Tidak kurang dari 10.000 kalo ngasih pengemis dilampu merah. Kalo ketemu pak ogah di puteran jalan dia pasti dengan senyum dan bilang terima kasih dia kasih 5.000 ke pak ogah tersebut. Jangan tanya soal bayar zakat deh… tau zakat, tau sedekah deh campur aduk karena besar uang yang dia kasih…Dia sangat percaya Tuhan. Dia sangat beriman kepada Tuhan.

“Saatnya akan tiba kang..nanti juga lu pasti akan sholat dan puasa…semoga dengan kejadian yang barusan terjadi yang sepertinya bener-bener merasuk sukma lu karena lu gak pernah muka lu berubah sepert itu… maka lu akan punya jalan dan kekuatan untuk sholat dan puasa…kan Lu yang selalu bilang Tuhan kok baik banget ya sama gue padahal gue sering lupa sama Tuhan…” sebisanya saya sebagai sahabat memberi semangat kepada dia. Habis bagaimana lagi ya. mau maksa dia supaya sholat juga gak enak. Anehnya, dia selalu memulai setiap aktifitas apapun dengan membaca Bismillah dan mengakhiri setiap aktifitas apapun dengan Alhamdulillah. Cuma sholat dan puasa yang tidak pernah dia lakukan.

Singkat cerita akhirnya kami selesaikan temu kangen tersebut dan seperti biasanya saya selalu ucapkan dalam hati jika berpamitan dengan sahabat dan saudara adalah ” Tuhan berikanlah selalu yang terbaik untuk sahabatku ini..”. Terasa sangat aneh jabat tangan dan pelukan dia. Aneh..aneh banget..Semoga ini pertanda dia akan memiliki energi untuk melakukan sholat dan puasa sehingga dia menjadi manusia hebat dan sempurna menurut saya sebagai sahabatnya.

Kemudian pada jam 5 pagi, Dua hari setelah pertemuan tersebut, saya mendapat telpon dari si Eneng, anak sahabat saya tersebut, dengan terbata-bata dan tidak jelas dia bilang “..wa..uwa………pap…pap..pah..me….ning…..mening…..” hilang suaranya…. Tidak pikir panjang saya langsung ganti baju dan berangkat kerumah sahabat baik saya tersebut di Jakarta. Innalillahi wa Innailaihi Rojiun…Sahabat saya yang dua hari kemarin ngobrol dengan saya telah wafat.. Sungguh sangat terkejut. Si Eneng,sang anak satu-satunya masih pingsan setelah menelpon saya tadi subuh. Tuhan…inikah jalan terbaik untuk sahabatku ini…?

Setelah selesai acara pemakaman, si Eneng cerita dan menurut ceritanya  papahnya kemarin pagi berangkat ke Jogja dan pulang tadi subuh. Seperti biasa kalau pulang malam atau pagi dia buka pintu sendiri dan tidak pernah mau membangunkan orang rumah. Pada saat itu si Eneng sedang sholat Subuh di mushola kecil dalam rumah. Si Eneng mendengar papahnya menarik kursi. Setelah selesai sholat Subuh dia lihat papahnya duduk terkulai dikursi di samping posisi sholat si Eneng agak kebelakang sedikit. Jadi seperti sedang menyaksikan anaknya sedang melakukan Sholat…Pada saat dan posisi itulah sahabat saya itu wafat. Kata si Eneng dia tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. masuk kedalam rumah dan langsung masuk kedalam kamar tidurnya jika pulang larut malam atau dini hari. Sehingga muncul pertanyaan dalam benak saya. Mau apa ya dia duduk dan menyaksikan anaknya sholat. Apa dia mau bertanya dan belajar sholat kepada anaknya? Apakah saat itu sudah muncul niat untuk sholat? Semoga dia memang ingin melakukan sesuatu yang berkaitan dengan sholat..amin

Setelah acara malam tiga harian di rumah sahabat saya tersebut dan para tetangga dan saudara sudah pulang. Saya duduk disofa panjang dan disamping saya duduk sang menantu. Lalu datang si eneng masih memakai mukena. Dia bersimpuh didepan saya. Kedua tangannya menarik dan menggenggam kedua tangan saya dengan mata sendu, sedih dan berurai air mata dia berkata..

“uwa…uwa…” tangannya terus mengoyang goyang tangan saya seperti sedang membangunkan seseorang..

“wa..papah bahagia kan disana…”

“ayo wa..bilang ke eneng… papah bahagiakan disana…papah ketemukan dengan mamah… ”

“ya kan wa…ayu uwa bilang…bilang waaa…” terbayang dalam pikiran bahwa dia tidak pernah sholat dan puasa. Apakah dia selamat disana…Apakah dia tersesat disana…pikiran ini telah membuat saya bingung untuk menjawab pertanyaan si Eneng… Dengan menarik nafas, saya tarik tangan kanan saya dari genggaman tangan si Eneng, saya letakan tangan kanan saya ke kepalanya sambil saya usap-usap. Saya tarik nafas panjang dan entah kenapa saya tutup mata saya. Lalu…. saya melihat wajah sahabat saya tersenyum bahagia… luar biasa wajah tersebut.. bersinar dan bahagia sekali…..

“Neng….uwa tanya ya…. apakah Neng percaya kepada Tuhan…”

“Percaya  wa….”

“Apa yang kamu ingat tentang Tuhan sekarang ini Neng…”

“Tuhan yang Maha Pengasih, Maha Penyayang wa…..”

“Tuhan yang Maha pemaaf dan Pengampun wa…” Jawaban si Eneng demikian jelas, mantap dan sepertinya seluruh lahir bathinnya ikut menjawab..

” Kalau kamu sangat yakin bahwa Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha pengampun maka apalagi yang harus kamu ragukan..” Si Eneng terdiam sesaat dan kemudian dia tersenyum. Senyuman persis seperti papahnya…

“Uwa…papah sangat baik sekali. Pekerja keras dan penyayang. Papah tidak pernah sekalipun marah kepada mamah….apalagi kepada Eneng anak satu-satunya… Papah tidak banyak bicara…tetapi papah banyak senyum dengan tatapan penuh cinta kepada keluarganya… Tetangga bilang papah adalah warga teladan dan dermawan. Papah tidak pernah menyakiti siapapun…” Eneng tersenyum bangga…

“Tuhan…aku yakin Engkau mengampuni papah ku dan aku yakin papah bahagia disisi MU…terima kasih Tuhan…” Akhirnya si Eneng lega dan mendapat jawaban dari dirinya sendiri. Dia yakin kedua orang tuanya yang telah wafat bahagia di sisi Tuhan….

kemudian dalam hati saya berkata “Terima kasih Tuhan… dengan cara MU,  Engkau telah memberikan jalan kepada kami yang mencari jawaban…”

Jangan pernah ragu sedikitpun kepada Tuhan yang Maha Pengasih, Maha penyayang dan Maha Pengampun….

Yakin dan imanilah bahwa Cinta Tuhan tanpa syarat kepada ciptaannya…

 

, , , ,

Comments are closed.