Home » EMBUN PENYEJUK IMAN, SOSIAL » Buang rezeki Tuhan
Jun
02

Notonogoro.com

Seluruh agama didunia ini mengakui dan mengajarkan kepada umatnya atau penganutya bahwa rezeki itu Tuhan yang memberikan. Rezeki memang tidak datang dari langit tetapi harus dijemput melalui kerja sehari-hari. Besar kecilnya rezeki Tuhan yang menentukan. Demikian juga siapa dapat apa serta kapan juga Tuhan yang mengaturnya. itulah ajaran umum tentang rezeki dari agama yang ada. Tentu juga setiap agama mengajarkan juga untuk berterima kasih dan bersyukur kepada Tuhan atas segala rezeki yang diberikan. Salah satu cara kita berterima kasih dan bersyukur atas rezeki tersebut adalah pada saat sebelum dan sesudah makan. Sebelum makan segenap kita pasti membaca doa sebelum makan dan membaca doa setelah makan selesai. Memang sih yang main habek saja tidak peduli dengan rezeki makan tersebut tetapi kebanyakan kita tentu membaca doa sebelum dan sesudah makan. inti dari doa sebelum dan sesudah makan adalah berterima kasih kepada Tuhan atas makanan dan minuman yang diberikan kepada kita. Damai sekali hidup jika kita selalu bersyukur kepada Tuhan.

Namun apakah benar kita sudah berterima kasih, bersyukur dan menghargai Tuhan atas rezeki makanan yang diberikan kepada kita? belum tentu kali ya… walaupun kita sudah membaca doa makan tetapi tidak ada jaminan bahwa kita telah telah berterima kasih, bersyukur dan menghargai Tuhan. Apa buktinya? Coba deh di ingat-ingat adab makan kita. Berapa banyak dari kita yang selalu membuang makanan yang ada dipiring, di mangkok atau minuman di gelas kita? Berapa banyak dari kita yang tidak menghabiskan makanan didalam piring kita? Apapun alasannya segenap kita sering sekali, bahkan mungkin setiap makan setiap harinya, yang selalu membuang makanan yang diakuinya sebagai rezeki dari Tuhan…

Coba bayangkan, kita memberi makanan kepad tetangga kita, lalu tanpa disengaja kita melihat tetangga kita yang menerima pemberian makanan dari kita tersebut membuang makanan yang kita berikan. Apapun alasannya. Bagaimana perasaan kita melihat dengan mata kepala sendiri kejadian tersebut. Biasa saja tidak terpengaruh, Kesel dan langsung marah kepada tetangga kita, atau marah dalam hati dan berkata tidak akan pernah lagi memberikan makanan kepada tetangga tersebut. Kalau kita kesel, marah dan tersinggung, apakah kita pantas melakukan itu? kenapa? karena kita sendiri setiap hari membuang makanan yang diberikan Tuhan kepada kita. Tuhan tidak marah makanan yang diberikan dibuang oleh kita, tetapi apakah pantas kita berkata terima kasih dan syukur kepada Tuhan lalu kita buang sebagian makanan pemberian Tuhan tersebut. Coba deh renungkan, apakah kita memang sudah hebat sampai berani membuang makanan pemberian Tuhan. Apakah kita sudah demikian kaya rayanya sehingga tidak perlu lagi menghargai Tuhan yang telah memberikan kekayaan tersebut?

Hal ini memang sangat sepele sekali, tetapi justru dari hal yang kecil ini kita sering lupa menghargai Tuhan. Tuhan tidak butuh penghargaan dari kita. Tetapi kita yang butuh karena kita selalu berharap Tuhan akan selalu ada untuk kita dalam setiap tarikan nafas kita. Ingat!!! kita yang butuh Tuhan…. Oleh karena itu, cobalai mulai hari ini untuk merubah adab makan kita. Ambilah makanan secukupnya dan letakan dipiring kita, makan dan habiskan. jangan ambil makanan langsung banyak karena tidak jaminan akan habis kita makan. Secukupnya kalau tidak mau dikatakan sedikit, karena kan gampang kalau mau nambah lagi. Lebih bagus kita nambah ketimbang kita membuang makanan. Yang penting fokuskan hanya pada bagian piring, mangkok dan gelas kita saja. Kalau yang dihidangkan dimeja makan sih masih bisa disimpan lagi kalau tidak habis.

Bagaimana jika ternyata makanan tersebut tidak enak? makanya usahakan bertanya atau usahakan rasakan sedikit sebelum menaruhnya di piring. Kalau tidak enak atau enak tetapi tidak sesuai dengan kesukaan kita maka tidak perlu kita mengambilnya. Apakah terlalu asin atau terlalu pedas kan bisa kita hindari dibuang kalau kita tidak mengambilnya…Tetapi jika sudah ada di piring kita dan tidak ada yang mau mengambil alih makanan tersebut maka wajib bagi kita untuk memakan dan menghabiskannya. lakukan itu dengan rasa cinta dan syukur kepada Tuhan.

Ingat rasa itu hanya sebatas mulut…

Kalau sudah melewati tenggorokan semua sama saja rasanya,, yaitu tidak ada rasanya…

Jangan hanya karena mulut kita tidak menghargai Tuhan….

, , , , , , , ,

Comments are closed.