Home » EMBUN PENYEJUK IMAN, POLITIK, SOSIAL » Berpikir besar atau berpikir kecil
May
28

Notonogoro.com

Siapapun yang eling tentu sangat mengerti dan menyadari bahwa negara ini sangat kekurangan pemimpin yang benar dan baik. Khususnya pemimpin dipemerintahan. Salah satunya adalah kebutuhan pemimpin di daerah tingkat dua, Walikota atau Bupati. Sangat indah kali ya kalau segenap pemimpin didaerah tingkat dua adalah pemimpin sejati yang benar-benar memimpin jauh dari kata KKN. Jauh dari kata SARA. Jauh dari kata SOMBONG. Jauh dari kata KHIANAT. Jauh dari kata BOSSY. Sangat dekat sekali dari kata MENGABDI. Sangat dekat dari kata IKHLAS. Sangat dekat dari kata ETIKA dan MORAL. Sangat dekat dari kata KERAKYATAN. Sangat dekat dari kata MAKAN GAJI BUTA. Sangat dekat dari kata CINTA MASYARAKATNYA.

Dikatakan sangat sedikit karena dari 514 jumlah kota dan kabupaten tidak sampai dari 10 walikota atau bupati yang termasuk dalam pemimpin yang baik dan benar. Mereka adalah Dedi Mulyadi di Purwakarta, Ridwan Kamil di kota Bandung, Hasto Wardoyo di Kulonprogo, Tri Rismaharani di kota Surabaya, Abdullah Azwar Anas id Banyuwangi, Rizal Effendi di Balikpapan, Herman HN di Lampung, ¬†Asrun di kota Kendari, Illiza Sa’aduddin Djamal di Aceh. Hayo siapa lagi..sedikit kan ya…

Mereka ini kan disebut pemimpin daerah dan bukan pemimpin nasional. Daerahnyapun masih di lingkup tingkat dua. Apakah mereka harus berpikir besar untuk menjadi gubernur sehingga segala kemampuannya bisa diabdikan kepada daerah yang lebih luas? Ini adalah cara berpikir yang sangat umum. Naik kelas secara bertahap dan wajar. Lalu, bagaimana jika ada yang hebat, satu dari mereka, misalnya menolak untuk menjadi Cagub dan lebih fokus untuk menyelesaikan pengabdiannya di daerahnya saja? Apakah ini dinilai sebagai berpikir kecil? Atau bagaimana jika ada dua pemimpin hebat didaerah maju bersama di daerah tingkat satu yang sama untuk menjadi Cagub? apakah ini disebut berpikir besar atau berpikir kecil?

Sebagai contoh saja ya, Ridwal Kamil masih di periode pertama wali kota bandung dan Dedy Mulyadi yang sudah di periode kedua di kabupaten Purwakarta. Kedua sangat bagus didaerah masing-masing. Keduanya akan maju menjadi Cagub Jawa barat di Pilkada besok beberapa bulan lagi. Kota Bandung masih butuh Ridwan kamil tetapi dia mau menjadi yang lebih besar yaitu Gubernur Jawa barat, padahal kalo dia tetap di kota Bandung maka besar kemungkinan dia akan terpilih lagi. Jadi dia bisa jauh lebih banyak berkarya di kota Bandung dan masyarakat Bandung juga pasti senangnya. Dua periode cukuplah untuk memberikan yang terbaik kepada daerahnya. Kalau dia maju di Cagub kemudian gagal maka kota Bandung kehilangan sosok pemimpin hebatnya. lalu akan kemana dia? kan sayang kalau nganggur… ya nggak. Kalau Ridwan Kamil sukses jadi gubernur Jabar dan Dedy Mulyadi yang gagal sih tidak apa-apa deh karena Dedy Mulyadi memangh akan lengser dengan sendirinya. Tetapikan tetap saja kota Bandung kehilangan sosok Ridwan Kamil. Sayang kan.. tetap saja rugi… ah nggak kok, kan nanti juga ada yang gantikan dan mungkin lebih baik dari dia. Dinamis saja lah..

Ya OK lah berpikir seperti itu, akan ada gantinya. Hanya kan masalahnya kita kekurangan pemimpin yang baik dan benar sekarang ini. Jadi jika dua atau tiga orang dari mereka bertarung satu dengan yang lainnya maka sesungguhnya kerugian bagi daerahnya dan bagi masyarakatnya. Tidak ada ceritanya kan kalau ganti pemimpin semua akan dilanjutkan sama seperti yang ada sekarang. Yang udah-udah sih ganti pejabat ganti program dan ganti gaya. Bisa mati gaya lo..

Sebaiknya mereka pemimpin yang baik dan benar jangan pernah mau bertarung dengan sesama mereka. Mereka kan dengan kepemimpinannya dan jiwa besar mereka bisa berkumpul dan diskusi untuk kebaikan daerah dan kebaikan negara ini. Kalau perlu mereka buat perjanjian dan menetapkan untuk sama berpikir besar untuk negara ini. Untuk Jabar si A yang maju dan si B tetap lanjut di tingkat dua. Untuk jateng si C yang maju dan si D tetap lanjut di tingkat dua dan seterusnya. Buatlah kesepakatan bersama bukan berdasar kekuasaan tetapi berpikir besar untuk negara ini. Selama mereka dikenal hebat maka mau Pilkada dimanapun dia akan sukses dan berhasil. Tetapi jika masing-masing berpikir besar dan jalan sendiri-sendiri maka negara ini selamanya akan kekurangan pemimpin yang hebat.

jadi berpikir besar bukanlah berpikir untuk diri sendiri yang dibungkus untuk kepentingan yang lebih besar. berpikir besar adalah untuk kepentingan banngsa dan negara bukan untuk kepentingan hawa nafsu.

Selama merasa hebat dan merasa paling baik maka berpikir kecil lah yang akan muncul dari pemimpin seperti ini…

Atau ya udah kembali saja ke jaman dulu ya… Presiden yang memilih Gubernur dan Walikota/Bupati…

Presiden sejati akan memilih pejabat daerah sejati juga…

Ini baru berpikir sangat besar..

Tunggu saja ya..

 

 

, , , , , , , , , , ,

Comments are closed.