Home » EMBUN PENYEJUK IMAN » Keajaiban Indonesia (4)
May
22

Notonogoro.com

Dinegara maju baik di Amerika, Eropa dan Asia, jika ada seorang pejabat, baik pemerintah maupun swasta, terlibat satu masalah yang berkaitan dengan etika dan moral langsung pejabat tersebut melakukan pengunduran diri. Tidak pakai lama-lama dan pikir panjang. Merasa terlibat dan pasti tidak bisa ditutupi, karena memang tidak ada yang mau bantu menutupinya, maka tidak akan buang-buang waktu untuk cari jurus ngeles. Mau ngeles seperti apapun, begitu sampai ke media dan masyarakat maka akan langsung menyebar dan sudah bisa ditutupi lagi. Hanya bisa pasrah dan mengakui. Masyarakat langsung menilai dan menuntut pertanggung jawaban. Bagi masyarakat disana, seorang pemimpin dan pejabat harus bersih dan menjadi contoh panutan di tengah masyarakat. Kalau tidak siap menjaga etika dan moral maka jangan pernah menjadi pemimpin dinegara maju. Masalah hukum pidana atau perdata masuk juga dalam kelompok etika dan moral ini. Aneh juga sebenarnya kok mereka memiliki budaya yang hebat ini padahal katanya agama dan ritualnya sangat jauh dari keseharian mereka. Mereka katanya sangat individual dan meterialistis.

Bagaimana dengan di Indonesia? Kita semua sudah tahulah, ya nggak. Kalau tidak dipecat ya tidak akan mengundurkan diri. Jabatan itu amanah jadi kalau dipecat berarti pemberi jabatan sudah mencabut amanatnya ya mau tidak mau harus mundur. Selama belum dipecat ya terus saja menjabat. Terus saja mencari ribuan jurus ngeles. Terus saja mencari dukungan dan didukung oleh pendukungnya. Terus saja menghindar dari wartawan. Terus saja cuek belaga bego seperti tidak terjadi apa-apa. ¬†Pokoknya haram mengundurkan diri dinegara ini. Sepertinya baru satu deh pejabat yang mundur karena merasa bersalah dan bertanggung jawab. yaitu pejabat di Kementrian Perhubungan akibat kasus macet total Brexit lebaran. Secara moral pejabat ini merasa bertaggung jawab dan mundur. Luar biasa pejabat ini. Tetapi memangnya cuma satu saja ya… atau banyak.. kalau banyak ya silahkan diingat dan dijadikan contoh pejabat yang bertanggung jawab secara moral. Kalau perlu dimasukan dalam daftar khusus karena memang merupakan keputusan langka.

Tetapi kalau pejabat yang tidak mau mundur sih banyak walaupun masalahnya sudah jelas banget. Ngeles terus. Dibela terus. Bis pada blong remnya dan menewaskan banyak orang, apa ada yang mundur? Tidak ada aturannya harus mundur baik pejabat di perusahaan bis tersebut atau pejabat di pemerintahan. Cuek sih nggak yang penting tindak lanjutnya. Memangnya urusan gue. Itu sih urusan elu pade kan masing-masing punya tugas dan tanggung jawab. Kalau harus mundur bisa gawat nih. Bisa-bisa setiap bulan ganti pejabat. Kecelakaan sih wajar saja kan sarana dan prasarana transportasi termasuk disiplin bangsa ini kan masih rendah. Pasti akan terjadi kecelakaan di laut, udara dan darat silih berganti. Umum itu mah. Tidak bisa dijadikan tolok ukur mundur untuk seorang pejabat. Ya nggak..iya kan.. Yang penting lakukan perbaikan kedepannya. Beres kan.. Begitulah pokoknya akan selalu memiliki jurus untuk ngeles.

Bahkan ada pejabat yang baru keluar dari penjara karena kasus korupsi, begitu balik ke daerahnya langsung tidak lama kemudian menjabat kembali. Yang memberi jabatan tidak merasa salah dan yang menerima jabatan tidak juga merasa bersalah. Memang tidak ada aturan yang melarang hal ini. Syah-syah saja dan tidak perlu dibuat rame. Kalau tentang etika dan moral mah tidak ada pegangannya. Itu sih sifatnya individu. Itu sih subyektif. Mana bisa dipakai jadi aturan. Pokoknya ikutin saja aturan yang ada, beres. Tidak usah sesuatu diluar aturan dijadikan aturan yang mengikat. Gak bisa lah..

Banyak lagi contoh-contoh lain yang ada disekitar kita. Pertanyaannya adalah apakah salah? Tentu tidak. Tidak ada yang salah. Kan jawabannya sudah jelas, selama tidak ada aturan yang mengatur dur mundur seorang pejabat maka tidak ada yang salah. Inikan hanyalah masalah etika dan moral saja. Tidak bolehlah dipaksa-paksa seseorang untuk merasa malu, merasa bertanggung jawab secara moral. Masyarakat juga diam saja, ya sudah selesai.

Demikian kira-kira argumen umum dari mereka yang tidak setuju dengan pejabat mundur. Masalahnya bukan disitu kang bro. Negara ini kan katanya negara yang beragama walau bukan negara agama. masyarakatnya memeluk dan melakukan ibadah sesuai agama masing-masing. Juga negara ini kan disebut memiliki nilai luhur yang sangat luhur sekali. Justru nilai luhur ini yang seharusnya menjadi dasar dari semua aturan dan keputusan yang dibuat. Segenap masyarakat sangat taat beribadah tetapi kenapa kekuatan etika dan moralnya sangat rendah sekali. Budaya malu hampir bisa dibilang sangat menyedihkan sekarang ini. Seharusnya justru hukuman kultural atau hukuman sosial sangat kuat sekali di negara ini. Hukuman penjara jauh lebih ringan dari hukuman sosial masyarakat, itu yang seharusnya terjadi. Kenapa kok sekarang sudah pada tidak peduli pada kejadian disekitar kita. Apakah kehidupan harta dunia sudah demikian hebatnya menguasai kita sehingga mampu menguras budaya malu dan melemahkan kekuatan etika dan moral kita? ajaib kan ya…

Justru negara maju yang disebut diatas jauh lebih baik dari Indonesia. Mereka tidak gembar-gembor sebagai negara dengan nilai luhur tetapi memiliki dan menjalani sebagian nilai luhur yang paling umum sekali.

Apakah Indonesia masih pantas mengakui diri sebagai negara yang masyarakatnya memiliki nilai-nilai luhur? masyarakat yang murah hati, baik hati, gotong royong, taat beribadah, budaya malu sangat tinggi, saling asih asah dan asuh?

Atau kita semua sudah berubah menjadi negara dengan masyarakat yang materialistis? gak penting dengan etika dan moral?

Mungkin saja…

Tetapi jangan ah… Indonesia dan masyarakatnya masih memiliki segala nilai luhur… sekarang statusnya sedang cape aja kok…sedang menurun tetapi tidak hilang..

Saatnya tiba dengan pemimpin sejatinya maka nilai luhur tersebut akan mengalir kembali dalam segenap darah masyarakat Indonesia menuju gemah ripah loh jinawi…

, , , , , , , , ,

Comments are closed.