Home » SOSIAL » Keajaiban Indonesia (3)
Apr
10

Keajaiban Indonesia (3)

Notonogoro.com

Kita semua tahu bahwa Indonesia terbentuk dari wilayah bekas kerajaan. Ada banyak kerajaan di Indonesia pada masa lalu. Sifat dasar dari kerajaan adalah karakter feodal nya. Pemimpin atau raja adalah segala-galanya. Rakyat wajib tunduk pada segala perintah raja. Dengan demikian secara pertumbuhan budaya bangsa ini memiliki gen paternalisme dalam dirinya. Nilai atau norma atau adat istiadat yang ada selalu menjunjung dan mengagungkan para pemimpin dimasyarakat. Mereka para pemimpin sangat di hargai dan dihormati karena mereka adalah pemimpin. Pemimpin dituntut untuk selalu menjadi pegangan dan pengayom yang dipimpinnya. Inilah nilai-nilai paternalisme yang mengalir dalam segenap rakyat Indonesia. Walaupun sudah sedikit ada pergeseran khususnya pada segmen  masyarakat perkotaan berpendidikan tinggi, namun secara umum dimasyarakat Indonesia budaya peternalisme masih sangat kental.

Sangat wajar jika segenap rakyat atau kelompok masyarakat atau organisasi sangat menuntut pemimpinnya untuk memimpin dengan sebaik-baiknya melalui keputusan dan contoh yang baik. Sulit sekali bagi masyarakat Indonesia untuk melakukan debat terbuka, membantah, mempertanyakan atau memberi pemikiran yang berbeda dari pemimpinnya. Dalam rapat diperusahaan pun tetap saja staf akan sangat pasif dan hanya menjadi pendengar setia saat rapat dengan pemimpinya. Suasana bisa berubah menjadi dinamis jika si peminpim mampu menciptakan suasana lebih terbuka dengan membuang rasa feodal yang banyak menetap dalam dada pemimpin di negara ini.

Coba deh di ingat-ingat dan dirasa-rasa, memang demikian kentalnya rasa paternalisme ditengah kita. jangankan organisasi besar, organisasi arisan saja sudah kental memakai budaya paternalisme ini. Terserah ibu ketua saja deh. Ibu saja yang memutuskan kita sih ikut saja. Ibu kan lebih pengalaman makanya kita minta ibu yang menjadi ketua. itulah contoh ringan percakapan terkait dengan budaya paternalisme yang ada didalam masyarakat kita. Suka tidak suka seharusnya segenap kita menerima bahwa memang hal tersebut ada.  Apalagi jika pemimpinnya demikian kharisma dan sangat diterima oleh yang dipimpinnya maka apapun yang diminta oleh si pemimpin memiliki kecenderungan untuk selalu di penuhi oleh yang dipimpinya. fakta memang demikian adanya.

Namun ternyata ada juga keajaiban terkait budaya paternalisme ini. Pada saat tertentu para bawahan atau pengikut atau apaun namanya bisa mendadak tidak mengikuti pemimpin resminya dan malah mengikuti apa yang diminta oleh pemimpin barunya. Perubahan mendasar ini bisa dengan mudah terjadi selama menyentuh urusan “Rasa”. Kalau rasa atau perasaan atau sesuatu yang ada dalam dada sudah tersentuh atau tersinggung maka keputusas radikal dan tidak rasional bisa diambil oleh masyarakatnya.  Akan demikiamn mudah mereka melupakan pemimpin resminya dan berpindah kepemimpin barunya yang menurut mereka lebih benar, lebih bersih, lebih bagus, lebih baik, lebih berakhlak, lebih bertaqwa dan sebagainya. Tolok ukur perpindahannya tetap beradsar pada “Rasa” dan bukan berdasar pada “pikir”.

Pemimpin resmi yang sedang ditinggalkan terus saja mengingatkan pengikutnya dengan pendekatan “pikir” sementara sang pengikut sudah pindah kepada “Rasa”. Makanya tidak akan nyambung setidaknya pada saat itu. Banyak contoh yang sudah terjadi tentang hal seperti itu. Pemimpinnya mau ngomong apapun, mau pidato apapun, mau mengingatkan dengan cara apapun tetap saja tidak digubris. Rakyat atau masyarakat tetap saja melakukan sesuatu berdasar “Rasa” yang ada pada saat itu. Biasanya jika sudah terjadi perubahan arus energi paternalismenya ke arah “rasa” yang baru maka sedikit demi sedikit segenap masyarakat akan sadar dan mendukung perubahan ini. Jika dikelola dengan baik bahkan bisa terjadi perubahan besar dalam sekejap saja.

Contoh…

Perang merebut kemerdekaan.. adalah contoh tepat hebatnya budaya paternalisme Indonesia..

Runtuhnya Orde Baru.. adalah contoh hebatnya perubahan arus “rasa” di tengah Rakyat Indonesia..

Suksesnya SBY selama 10 tahun.. adalah contoh sukses paternalisme Jawa.

Gerakan 212 cs adalah contoh hebat perubahan “Rasa” berbasis agama..

Sejarah telah menunjukan betapa hebatnya kekuatan perubahan “rasa” dalam budaya paternalisme Indonesia.. Jangan anggap remeh hal ini..

Negara maju saja yang melakukan berbagai aktifitas intelejen dan “pembentukan” masih bingung dan takut menghadapi perubahan “Rasa” ini. Sangat tidak bisa di prediksi dari awal karena ini adalah tentang “Rasa”…

Kekuatan “rasa” lah yang akan membuat Indonesia bangkit…

Sungguh suatu keajaiban…

 

, , , , , , ,

Comments are closed.