Home » EMBUN PENYEJUK IMAN, REFORMASI, SOSIAL » Energi Kekuasaan
Mar
14

Notonogoro.com

Kilas balik dari apa yang pernah dirasakan, dilihat dan dialami tentang kekuasaan maka terasa sekali bahwa ternyata kekuasaan itu memiliki energi yang sangat besar. Apalagi kalau kita melihat apa yang terjadi di negara ini, di masyarakat dan bahkan didunia. Energi kekuasaan tetaplah energi kekuasaan dimanapun dia berada. Energi ini demikian taat dan solid dalam hidupnya. Saking taatnya tidak pernah ada energi kekuasaan yang berubah menjadi melemah sebelum masuk kedalam diri manusia. Dia tetap kuat dan tidak berubah sama sekali saking solidnya. Saya adalah kekuasaan maka saya akan bertindak sebagai kekuasaan sebagaimana saya diciptakan apa adanya.

Energi kekuasaan akan menyerang pikiran, nafsu dan ego setiap manusia yang mendapatkan kekuasaan tersebut. Siapapun dia pasti akan mendapatkan serangan ini karena memang sudah begitu tugasnya energi kekuasaan. Mau anda adalah orang miskin, ketua RT, Suami, Camat, Walikota, Ustadz, Kiai, manajer, direktur, ketua partai, Presiden, mentri dan sebagainya tidak akan pernah luput dari serangan energi kekuasaan ini.

Siapakan lawan sepadan dalam diri kita untuk melawan energi kekuasaan ini? tidak lain dia adalah PERASAAN atau RASA. Perasaan dalam diri kita memiliki energi positif penuh cinta dan penuh damai. Perasaan yang dimaksud disini adalah perasaan sejati yang bersemayam dalam segumpal daging yang berwarna merah dalam tubuh kita. Perasaan disini bukanlah perasaan palsu dalam kalbu yang sebenarnya adalah hawa nafsu. Temukan dan rawat lah perasaan sejati dalam diri maka kita akan bisa mengendalikan apapun termasuk energi kekuasaan yang masuk menyerang. Kemampun perasaan kita pada akhirnya memberikan tiga (3) macam wujud kekuasaan dalam setiap manusia. pertama, adalah Bingung. Kedua adalah Rakus. Ketiga adalah Amanah.

Bingung dengan kekuasaan yang diterima adalah posisi draw antara kekuatan energi kekuasaan dengan energi Perasaan. Tidak percaya diri, ragu dalam bertindak, menyerahkan kepada orang lain, merasa belum pantas, lari dari kenyataan adalah ciri utama orang seperti ini. Orang sekitarnya menunggu kepemimpinan yang bersangkutan namun yang bersangkutan justru tidak pernah bisa tampil sebagai pemimpin. Tarik ulur energi dalam keseimbangan inilah penyebab dari bingung tersebut.

Sedangkan Rakus adalah bukti menangnya energi kekuasaan melawan energi perasaan. Diri dikuasai oleh energi kekuasaan. Langkah, laku, ucap dan pikirnya selalu penuh dengan hawa nafsu dan ego untuk menang-menangan. Merasa paling berkuasa, merasa paling hebat, merasa paling benar, mau ngatur tetapi tidak mau diatur, mau menyalahkan tetapi tidak mau disalahkan, tidak mau dibantah, gila hormat adalah ciri utama mereka yang dikuasai oleh energi kekuasaan. Energi perasaannya demikian lemah dan tidak kuasa melawan serangan energi kekuasaan. Tindakan koruptif adalah hal yang sangat dominan dilakukan oleh orang seperti ini. Hal ini dapat digambarkan seperti seorang panglima perang yang mengendarai kuda dan sambil menghunus pedangnya. Kuda adalah energi perasaan dan pedang adalah energi kekuasaan.

Yang paling bagus tentunya adalah Amanah. energi perasaan dapat menguasai, mengatur dan mengendalikan energi kekuasaan. Dia sadar bahwa dia adalah pemimpin yang yang harus memimpin, yang harus bertanggung jawab dan yang harus memberi contoh kebaikan dan kesuksesan. Langkah, laku, ucap dan pikirnya penuh dengan kebenaran, kebaikan, cinta, rendah diri, penuh kelembutan dan kelugasan dalam ketegasan, semangat penuh inspirasi dan motivasi. Ini adalah manusia sejati lahir dan bathin. Manusia panutan dimanapun dia berada. Manusia yang membawa kesuksesan, kebahagian penuh kedamaian.

Dimana posisi kita berada sekarang ini?

Diposisi manakah pemimpin kita sekarang ini?

Apakah sekarang sedang musim pemimpin yang rakus?

Banyak atau langka kah pemimpin yang Amanah diantara kita?

, , , , , , ,

Comments are closed.