Home » EKONOMI » Dimana pertanian kita sekarang ini
Sep
02

Notonogoro.com

Sejak zaman Fir’aun masih pakai celana kolor Negara Indonesia selalu disebut Negara agraris kaya dan kita sanga bangga dengan sebutan tersebut. Negara yang indah dengan hujan tropis yang cukup untuk memberikan kehidupan yang hijau. Nyiur melambai padi menghijau itulah kata-kata indah yang dahulu sering kita dengar. Pada zaman Orba kita telah berhasil berswasembada pangan. Tetapi dijaman sekarang ini kita justru impor beras dari Negara yang baru terbentuk aman. Apa yang terjadi dengan pertanian kita. Dimana para ahli pertanian kita. Apa sih yang sekarang sedang mereka lakukan. Apakah mereka sudah tidak peduli dengan kondisi pangan bangsa ini. Apakah mereka sudah bangga dengan lulus dari perguruan tinggi dengan gelar sarjana pertanian.

Sungguh banyak universitas yang mengusung pertanian dalam fakultasnya. Sungguh banyak sarjana pertanian yang sudah dihasilkan. Tetapi apa yang sudah dilakukan oleh mereka sampai dengan saat ini. Apa yang bisa dibanggakan dari mereka para sarjana pertanian ini. Dari dulu begini-begini saja pertanian kita. Pertanian disini tentunya ternasuk perhutanan dan perikanan darat. Masih saja padinya itu-itu saja. Masih saja padi tersebut mudah diserang hama. Masih saja ada padi yang berharga murah karena kualitasnya juga murahan. Apakah selama puluhan tahun hanya segitu saja kesanggupan sarjana perpadian kita. Jepang aja ngetop dengan beras Jepangnya yang putih mengkilat, gurih dan pulen. Beras kit amah dari dulu itu-itu saja dengan rasa dan penampilan begitu-begitu aja.

Seharusnya mereka sudah bisa dong menciptakan bibit padi berkualitas prima. Nggak usah banyak-banyak lah, cukup ada 5 macam saja dan ditanam oleh seluruh petani dengan hasil yang memuaskan. Nggak ada lah yang namanya impor beras kali yaa…sawah berkurang kok sarjana pertanian diam saja. Memangnya tanggung  jawab gue??? Enak aja lu ngomong. Memang benar bukan tanggung jawab lu semua. Tapikan ada mentri pertanian yang mewakili lu semua. Diakan sarjana pertanian kayak lu juga. Masa sih nggak punya master plan pembangunan pertanian Indonesia.   Apa sih materi kuliah lu..

Nggak mungkin luas sawah berkurang kalo lu semua, universitas, mahasiswa dan sarjana pertanian tahu apa tugas dan tanggung jawab moral dan sosial lu. Pasti mentri pertanian dan elu semua ditambah petani sudah pada ngamuk sawahnya disulap jadi rumah. Boleh saja berubah wujud, namanya juga pembangunan, tapi lu cari penggantinya dong…jangan diam aja. Pake master plan lu!!!  (kalo punya itu juga).

Heran….sejak rekiplik sampe gini hari masih aja cara rekiplik yang dipake. Bajak sawah pake kebo. Ngolah sawah pake pacul. Panen padi pake arit atau ani-ani. Kemane tuh pade mesinnye??!! Nggak punya duit ya..masa sih perguruan tinggi yang orangnya pada pinter nggak bisa menciptakan dan memberikan mekanisasi pertanian ke petani kita. Entekan semua ngelebok nasi dan ente kuliah juga tentang nasi, masa nggak nyambung sih…

Nggak malu ya lihat Negara lain yang pada maju pertaniannya. Aduhhh ammpuunn…gimana kalo diminta menciptakan pohon padi berbuah kacang kedele, mati kali lu ya pade.

Ini baru urusan padi nih, belum yang lain,  masih banyak omelannya. Sayuran, buah-buahan, peternakan, per-empangan (perikanan). Tapi jangan sakit hati dulu ya..inikan artinya kita sayang ama kamu. Maknanya kita semua berharap banyak ama kamu. Jadilah sarjana pertanian yang mumpuni untuk bangsa dan Negara ini. Nggak usah banyak-banyak, cukup 5 sarjana pertanian saja pertahun seluruh Indonesia udah cukup banget dah. Yang lainnya terserah mau jadi apa kek. Cukup kok 1 tahun 5 sarjana pertanian mumpuni dalam ilmu, praktek dan pengabdian.

Ok ya,,ditunggu ya,,,,

, , , ,

Comments are closed.