Home » POLITIK » Inikah reformasi itu (1)
Aug
01

Inikah reformasi itu (1)

Notonogoro.com

Sejak era reformasi Indonesia masuk ke era demokrasi. Demikian pendapat banyak tokoh dan juga banyak Negara di dunia ini. bahkan Indonesia dijadikan contoh sukses bagi Negara lain yang mau masuk ke era demokrasi. Tentunya ada banyak tokok di Negara ini yang bangga dengan julukan ini, julukan Indonesia sebagai Negara berkembang terbaik dalan penerepan demokrasi. Kenapa Indonesia mendapat sebutan seperti itu? Ternyata awalnya adalah oleh bangsa Indonesia itu sendiri. segenap masyarakat dan para tokoh telah sepakat menyatakan bahwa era Orde baru adalah era otoriter dan era Orde lama adalah era perjuangan yang demokrasinya masih mencari bentuk. Dengan begitu semangatnya kita teriak-teriak selamat datang demokrasi dan hancurkan Orde baru maka otomatis opini dunia menjadi berubah tentang Indonesia.

Pada jaman Orba hamper bisa dikatakan tidak ada satu negarapun didunia ini yang menilai Indonesia adalah Negara otoriter. Tidak ada sama sekali dan bahkan mereka sangat salut dengan Indonesia yang mampu memainkan berbagai peranan didunia ini. untuk Asean jelas motor penggeraknya adalah Indonesia. Amerika, Eropa dan China sangat menghormati Indonesia. Mereka sadar bahwa Indonesia sangat penting bagu dunia. Stabilitas Indonesia perlu dijaga agar tidak ada gejolak di Asia Pasifik. Intinya adalah pada era Orba posisi dan peranan Indonesia demikian dominan dan sangat dihormati. Pertumbuhan ekonomi dan stabilitasnya sangat menggembirakan dan memberikan banyak kesempatan untuk terus tumbuh dengan pemerataan kesejahteraan yang jelas arah dan tujuannya sebagaimana tercantum dalam GBHN, Garis Besar Haluan Negara dan Repelitanya, Rencana Pembangunan Lima Tahun.

Pada saat itu pimpinan Orba memang menerapkan ketegasan dalam mengelola Negara ini. stabilitas adalah nomor satu. Dengan stabilitas maka gerak pembangunan dan kenyamanan dalam berbangsa dan bernegara dapat terus terpelihara. Gangguan dalam stabiltas akan berdampak buru. Demikian pokok dasar pemikiran pemimpin Orba pada saat itu. Hasilnya jelas kita rasakan sampai dengan saat ini yaitu Indonesia yang maju dan berkembang.

Dilihat dari sisi politik dan nilai-nilai dari luar maka sikap menjaga stabilitas ini dinilai sebagai Otorites dan anti demokrasi. Oleh karena itu harus dihancurkan. Selain itu juga Otoriterisme selalu sarat dengan KKN yang merugikan Negara. Makanya tumbanglah Orba dan lahirlah era Reformasi yang semangatnya adalah Demokrasi sejati tanpa KKN. Awalnya memang cukup menjanjikan. Bahkan UUD 45 pun berani mereka rubah demi nilai dan ajaran Demokrasi dari luar ini. demi menghancurkan Orba mereka relakan mengganti nilai luhur yang ada dinegara ini dengan nilai dari luar yang belum tentu cocok dengan bangsa ini. mereka para tokoh pada saat itu memang sedang kerasukan euphoria Reformasi dan bangga mendapat jukukan tokoh reformasi dan demokrasi Indonesia.

Lalu apa yang terjad sekarang ini? apakah KKN hilang? Apakah justru korupsi semakin menggila? Apakah sekarang aman tantram? Apakah sekarang riuh kacau dengan demo dan anarkisme? Fakta menunjukan bahwa era sekarang ini jauh lebih menyedihkan dibandingkan dengan era Orba. Bahkan banyak yang menyatakan rindu Orba. Korupsi yang di era Orba dilakukan hanya pada kalangan terbatas dan pelakunyapun dapat “diadili” kapan saja. Tetapi sekarang ini Korupsi dilakukan oleh siapa saja tanpa pandang bulu. Pelakunyapun kerap mendapat dukungan dari masyarakat yang dibayar untuk itu. Pelakunyapun sering tersenyum dan melambaikan tangan seperti orang terhormat saja. Dari sisi KKN maka era reformasi jauh lebih buruk dari era Orba yang mereka tumbangkan karena alasan korupsi. Alih-alih menghapuskan korupsi justru menyuburkan korupsi. Sangat ironis sekali kondisi ini.

Yang tadinya semua dapat tenang beraktifitas tetapi sekarang ini tida ada hari tanpa demontrasi. Tidak ada hari tanpa anarkisme. Tidak ada hari tanpa kekacauan. Selalu ada saja ketidak puasan yang diumbar dengan kekerasan. Selalu saja ada merasa benar sendiri. selalu saja ada  merusak fasilitas umum. Selalu saja ada merugikan masyarakat umum. Selalau saja ada pemaksaan kehendak. Dan sebaginya dan sebagainya. Inikan hasil dari reformasi? Inikah hasil dari demokrasi? Inikah yang kita cita-citakan? Bahagiakah kita dengan situasi ini?

Tidak puas maka lakukan demo. Tidak terima maka lakukan penyerangan. Biar ngetop maka blokir jalan tol. Biar dibilang pejuang sejati maka tutup jalan protocol. Mau kaya maka lakukan korupsi. Demi nama baik korps maka berbohonglah dan hancurkan musuh.  Kekuasaan mahal leh karena itu harus balik modal. Uang rakyat adalah uang kami maka masuklah dalam kantong pribadi. Menyedihkan sekali kondisi ini dan sangat bertolak belakang dengan fakta cita-cita menumbangkan Orba dan melahirkan Reformasi…..

Berlanjut……………………

, , , , , , , ,

Comments are closed.