Home » EKONOMI » Mulai Orde baru definisi dunia telah dirubah
Mar
09

Notonogoro.com

Untuk masyarakat yang sekarang ini berumur lebih dari 40 tahun tentu masih ingat, kalau daya ingatnya masih bagus, perkataan atau petuah dari orang-orang tua kita.  Baik orang tua kita sendiri atau kakek nenek bahwa dunia hanyalah tempat mampir sementara menuju tempat kekal abadi di akhirat kelak. Hidup harus nrimo, ojo ngoyo, ikhlas, saling asah asih dan asuh. Semua harus disyukuri. Tuhan lah yang mengatur segalanya. Kebahagian ada didalam diri masing-masing. Kebahagian tidak tergantung pada banyaknya harta. Kebahagiaan ada dalam keikhlasan. Tuhan yang mengatur rezeki kita. Harta, tahta dan wanita adalah bisa menjadi biang keladi hancurnya seseorang atau suatu kaum.  Itu adalah sebagian petuah dan ajaran para orang tua kita. Indah sekali jika memang kita pintar merenungkannya. Saling sapa, saling senyum, saling bantu, gotong royong adalah jati diri kita pada saat itu. Jika kita batasi dengan waktu, situasi itu terjadi pada masa sebelum orde baru, yaitu orde lama dan sebelumnya.

Namun dengan adanya pembangunan pada era orde baru yang memasukan berbagai teknologi kedalam kehidupan bermasyarakat kita, mulailah detik demi detik, menit demi menit, tahun demi tahun nilai-nilai luhur tersebut bergeser kepojok dan semakin tersingkirkan. Hidup berubah menjadi suatu kompetisi yang keras. Semua harus berjuang. Harta, tahta dan wanita menjadi target. Dunia menajdi tujuan akhir. Pada saat yang sama dan karena tekanan kebutuhan dunia dan kemajuan zaman, moral dan akhlak sedkit demi sedikit mulai bergeser. Suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar hal itu terjadi dalam masyarakat Indonesia.

Kebahagiaan mulai diukur berdasar harta kekayaan. Semakin kaya maka dinilai semakin hebat. Semakin kaya maka semakin tinggi derajat dimasyarakat. Pejabat dan keluarganya terus berlomba membuktikan nikmatnya memiliki kekayaaan. Peduli setan dengan cara, yang penting dapat harta dan kekayaan. Dimulai dari pungli kecil-kecilan sampai korupsi menjadi hal wajar. (Dahulu ada istilah \”prit jigo\” yang artinya tilang dan damai dengan polisi dengan memberikan uang sebesar dua puluh lima rupiah (jigo kalau dalam bahasa cina). Pada saat itu jigo cukup besar nilainya). Akhirnya kewenangan berubah menjadi senjata mengeruk kekayaan. Akhirnya kewajiban melayani berubah menjadi kewajiban dilayani. Tidak ada uang tidak ada beres ada uang semua beres. Kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah.

Mulai zaman orba inilah terjadi pergeseran nilai dan norma yang ada dimasyarakat. Siapapun bangga jika suaminya, istrinya, ibunya, bapaknya, anaknya, menantunya, mertuanya kaya dan banyak harta tanpa pernah ada yang menanyakan dari mana harta tersebut. Tidak ada lagi yang membentengi keluarga dari serangan harta, tahta dan wanita. Melakukan korupsi sama dengan makan siang, wajib. Selama ada kesempatan maka korupsi dilakukan. Semua berubah dan berubah. Dunia menjadi target dan akhirat kumaha engke (bagaimana banti aja). Bahkan sampai ada yang berani bilang \”Jika memang benar ada akhirat dan neraka maka saya termasuk orang  yang merugi karena akan sengsara selama-lamanya di neraka sebagai ganjaran kebahagiaan semu dan sementara di dunia. Tetapi jika ternyata akhirat dan surga tidak ada maka saya termasuk orang yang beruntung karena telah befoya-foya didunia\”. Demikian hebatnya tekanan dunia sampai berani berpandangan seperti itu.

Akhirnya KKN telah menggeser jati diri bangsa. KKN telah berubah menjadi budaya. Sampai dengan sekarang ini dan tidak tahu sampai kapan. Sangat sukar merubah budaya. Tidak bisa merubah budaya dalam satu hari. Walaupun sudah banyak yang dipenjara tetapi KKN tetap saja jalan terus. Sepertinya tidak ada yang takut. Hanya diam sebentar sambil mempelajari dan mencari cara jitu untuk mensiasati hukum.

Sulit dan sungguh sulit. Harus temukan dan kembali ke jati diri bangsa. Pelajaran akhlak, etika dan moral harus masuk lagi dalam kurikulum sekolah seperti dahulu. Tempatkan dan kembali libatkan para pemuka agama dan adat sebagai ujung tombak benteng moral. Lawan semua ajaran yang menentang cara-cara ini. Rapatkan barisan, temukan jati diri bangsa….

, , , , ,

Comments are closed.