Home » BUDAYA » Katanya jabatan adalah amanah tapi kok….
Sep
04

Notonogoro.com

Banyak hal menarik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dinegara ini. Satu diantaranya adalah pernyataan “jabatan adalah suatu amanah dari Tuhan” yang selalu diucapkan oleh setiap orang yang diangkat menduduki suatu jabatan. Apapun jabatan tesebut, mulai dari RT sampai presiden. Jabatan formal maupun jabatan non formal. Pokoknya menjadi pemimpin dari suatu kelompok masyarakat. Ucapan tersebut dapat dikatakan sebagai budaya atau kultur kita orang Indonesia. Suatu ucapan yang mencerminkan agamisnya bangsa Indonesia. Ucapan yang menyebarkan kedamaian. Apalagi sebelum atau sesudah ucapan tersebut selalu diikuti kata dan kalimat yang membawa nama dan keagungan Tuhan.

Apakah ucapan tersebut sudah demikian otomatisnya keluar dari setiap mulut pemimpin yang dilantik, keluar dari alam bawah sadarnya karena sudah menjadi satu budaya, atau keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam yang mencerminkan keimaman dan ketakutannya kepada yang memberi jabatan tersebut, yaitu Tuhan yang Maha Esa. Hal ini yang sebenarnya harus dicermati oleh kita semua. Adakah kemunafikan didalam ucapan tersebut atau adakah ketulusan hati untuk mengabdi kepada yang dipimpinnya.

Kita kilas balik sebentar ke sejarah yang telah berlalu. Dalam sejarah kenabian yang ada dimuka bumi ini selalu ditampilkan kepemimpinan yang benar-benar mengabdi untuk yang dipimpinnya, umat atau rakyatnnya,  berbasis kepada pengabdian kepada Tuhan. Jadi intinya adalah mengabdi. Jadi dasarnya adalah ibadah. Jadi pondasinya adalah menjalankan amanah atau perintah Tuhan. Sangat tidak ada kepemimpinan Nabi yang berdasar kepada kepentingan pribadi. Kepentingan kelompok atau golongannya. Kalaupun ada pasti Nabi palsu.

Apa yang diucapkan oleh pemimpim sekarang seperti yang disebut diatas sebenarnya adalah bedasar sejarah Nabi tersebut. Hanya sepertinya kebanyakan pemimpin tersebut mengambil sangat sepotong sekali. Yaitu hanya pada “jabatan adalah amanah”. Titik. Tidak mengambil secara keseluruhan. Tidak mengambil berdasar proses pembelajaran untuk mendapatkan inti dari makna ucapan tersebut. Kebanyakan dari pemimpin sekarang ini mengucapkan itu hanya untuk menjelaskan, kalau tidak mau dikatakan kemunafikan, bahwa dia sangat sadar apa tugas dan tanggung jawab seorang pemimpin. Hanya awal saja. Setelah itu ya akan kembali kepada aslinya yaitu untuk apa dia mengejar jabatan tersebut.

Sedikit saja kita fokuskan kepada para pemimpin politik atau pemangku jabatan politik dinegara kita sekarang ini. Untuk mendapatkan semua jabatan tersebut berapa banyak uang yang dihabiskan. Dari dana membeli menyan, dana membeli jin dan dukunnya, dana untuk kampanye dan dana untuk politik uang. Milyaran rupiah bro… Gila apa nggak ya kalau ada yang bilang bahwa uang milyaran tersebut adalah dana investasi untuk mendapat jabatan tersebut. Modal milyaran ini kan harus kembali. Kembali modal plus ratusan persen keuntungannya.

Mereka tahu sekali kalau gaji yang akan diterimanya nanti tidak akan cukup untuk mengembalikan modal tersebut. Jangankan gaji tersebut dipakai untuk hidup sehari-hari. Ditabung total selama menjabat saja tetap masih kurang dari modal investasi tersebut. Lalu kenapa mereka mau melakukan apa saja dan menanamkan investasi sebesar itu untuk jabatan yang diincarnya. Pasti ada sesuatu yang menggiurkan. Ada gula ada semut. Ada uang ada barang. Apakah itu? Tidak lain adalah KKN. Mulai dari, kita misalkan seorang kepala daerah, memanipulasi biaya dapur, biaya renovasi rumah dinas, biaya pakaian dinas,biaya perjalanan dinas sampai setoran dari setiap proyek yang ada didaerah kekuasaannya.

Setoran itu bisa macam-macan jalurnya. Mulai dari setoran per bulan kepala dinas sampai dengan pengaturan proyek ke kroni-kroninya. Kalau kata Begawan ekonomi kita,pak Soemitro almarhum, 30 % anggaran pasti bocor. 30% itu berapa oom..ratusan sampai milayaran rupiah per tahunnya, ya jelas saja balik tuh modal investasi. Bagaimana dengan anggota legislatif. Ya sama saja, pokoknya ada kekuasaan pasti ada harganya. Ingat-ingat saja sendiri berapa banyak anggota legisatif yang mendadak kaya. Berapa banyak anggota legislatif yang masuk penjara. Artinyakan ada jalur membalikan investasi awal masing-masing mereka. Hanya apes saja bagi yang ketahuan dan masuk penjara.

Lalu dimana letak amanah nya?… apa bagi mereka penganut sistim investasi ini pantas menyatakan amanah atas jabatan yang diperolehnya. Apanya yang amanah kalau niatnya mau KKN dan mencari kekayaan pribadi melalui jabatan tersebut. Pastilah masih ada pemimpin yang benar-benar melaksanakan sejarah Nabi tersebut. Tetapi berapa persen dari keseleruhan jumlah pemimpin yang ada. Presiden dan wakil presiden?.. satu sampai dua orang dari puluhan mentri?. Satu sampai tiga orang dari ratusan Dirjen? Legislatif, walikota, Bupati, Camat, Jaksa, polisi, hakim…..ada tapi sesulit mencari kacang kedelai (kalau jarum kan tajam dan bisa menusuk jari) dalam tumpukan rumput jerami.

Jabatan memang amanah tetapi sedikit sekali pemimpin yang amanah. sekarang ini jabatan masih menjadi bisnis investasi yang menggiurkan. Sabar saja  Belum saaatnya kali ya…tunggu sampai saatnya tiba..mudah-mudah setelah jamannya SBY.

, , , ,

One Response to “Katanya jabatan adalah amanah tapi kok….”

  1. December 28th, 2012 at 21:45 | #1

    Berkaca dari filosofi cara kerja tukang parkir yang tidak pernah meminta orang yang berkendara untuk parkir di tempatnya karena setiap orang bebas memilih ‘parkiran’ mana yang layak untuk mereka titipkan amanah…dan amanah bukan benda yang bisa diminta atau sedekah bagi orang yang mengemis. :)

Add reply