Home » BUDAYA, EKONOMI, POLITIK, SOSIAL » Bangsa boros kok disuruh berhemat
Dec
05

Notonogoro.com

Terkait dengan kisruh wacana BBM subsidi yang sampai sekarang tidak jelas juntrungannya. Pemerintah seperti yang diduga oleh segenap orang waras tidak akan berani ambil putusan tegas memang terbukti. Wacana tetap wacana karena sudah menjadi hobi. Wacana baru yang keluar adalah hidup hemat. Baik BBM maupun listrik. Katanya sih mau dimulai dari PNS atau pegawai negeri. PNS harus sudah bubar kantor maksimum jam 6 sore. Jadi  banyak listrik yang dapat dimatikan untuk penghematan. Mungkin OK saja wacana putusan tersebut walaupun ada pertanyaan menggelitik ditengah masyarakat seperti emangnya PNS masih ada yang kerja diatas jam 3 sore?..mungkin ini budaya lama yang sudah sirna kali ya…

Yang namanya wacana pasti baik-baik saja untuk dijadikan awal dari satu tindakan nyata. Berkhayal dahulu kemudian mewujudkan khayalan tersebut adalah hal yang biasa. Tetapi wacana untuk berhemat kepada bangsa ini apakah sudah tepat waktu sekarang ini? Kita semua pasti tahu dan setuju bahwa kita sekarang ini sudah menjadi bangsa yang super boros dan tidak peduli lingkungan sekitar. Bangsa yang mau enak sendiri tida peduli orang lain mau ngomong apaan. Bangsa yang lebih mementingkan diri sendiri ketimbang mengutamakan orang banyak. Lalu apakah itu semua cocok untuk dijadikan landasan berhemat?

Jangankan himbauan, keputusan yang ada sanksinya saja banyak yang tidak memperdulikannya atau tidak melaksanakannya dengan baik dan benar. Misalnya masih banyak yang tidak pakai helm atau banyak yang pakai helm non SNI pada saat mengendarai sepeda motor. Masih banyak yang tidak menyalahkan lampu depan pada saat mengendarai sepeda motor. Masih banyak yang mengabaikan aturan lalu lintas. Bahkan yang diancam dengan hukum berat seperti narkoba dan korupsi saja masih banyak yang tidak takut. Lalu bagaimana dengan kuputusan dan himbauan presiden untuk berhemat? Gak mempan kali ya….

Uang uang gue…mobil mobil gue..motor motor gue..rumah rumah gue..nah gua sanggup bayar itu semua…lalau kenapa gue harus hidup susah dengan berhemat…yang pentingkan tidak melanggar hukum..ya udah beres kan..emangnya kalau gue hemat terus Negara jadi kaya raya..emangnya kalau gue berhemat lalu uangnya ngak dirampok koruptor…emangnya kalau rakyat berhemat lalu para pejabat ikutan berhemat…mana ada ceritanya peduli dengan yang seperti ini sekarang ini…buktikan dahulu melalui contoh para pejabat yang mendapat kenikmatan hidup dari uang rakyat untuk hidup baik dan benar. Hemat …buktikan kalau memang bisa berhemat…jujur… buktikan kalau memang bisa jujur..jangan rakyat aja yang lu suruh susah dan lu pade tetap hidup mewah..gileee kali pade ye…begitu kira-kira ungkapan bathin atau tepatnya celetukan rakyat di gang senggol RT 5 pada saat kongkow habis hujan malam kemarin..

Artinya yang namanya  penghematan mah jauh dari otak bangsa ini sekarang ini.kalau hidup hemat karena gak ada uang sih itu biasa tapi kan yang dimaksud disini hemat tapi punya uang, jadi menahan nafsu mengeluarkan uang.  Repot lah yang seperti ini lah. Jadi seharusnya harus ada cara yang lebih cerdas dan  berani dalam menanggulangi kekurangan subsidi BBM ini. Jangan bebannya dipindah ke rakyat, siapapun dia. Belum saatnya hal seperti ini terjadi dinegara ini. Karena kalau menyangkut BBM dan listrik maka yang terkena adalah rakyat yang punya uang. Sulit meminta mereka untuk menahan pengeluarannya padahal mereka punya uang. Demikian juga dengan pulang kantor setelah jam 6 sore, apakah efektif dan memberikan penghematan yang besar. Kemungkinan besar sih tidak significant penghematan dari hal yang seperti ini. Yang pasti juga tidak akan bertahan lama cara seperti ini.

Jadi jangan ngumpulin uang receh untuk beli mobil..gitu looohhh…

Seperti yang sudah disampaikan di tajuk Notonogoro ini, ada cara cerdas dan tegas dengan keberhasilan yang sangat besar serta member keadilan subsidi di masyarakat. Pakai saja cara itu. Tapi kalau nggak berani ya udah jangan diminta rakyat banyak, baik PNS, Swasta, umum dan sebagainya,  untuk berhemat. Bukannya tidak mendukung dan tidak mau berhemat serta sok kaya. Tidak dengan maksud seperti itu sama sekali. Tetapi lebih kepada cara pikir yang realistis. Andaikan harus berhemat maka buktikan dahulu dari pemerintah untuk berhemat. Misalnya SPJ dikurangi,rapat dikantor saja, hapus uang rapat, pakai hotel maksimum bintang tiga, tidak ada fasilitas kendaraan dan supir kecuali untuk presiden dan wapres, kurangi perjalanan ke luar negeri. Dan seterusnya dan seterusnya. Silahkan itu dilakukan sehingga rakyat bisa melihat dan menilainya. Baru ada kemungkinan masyarakat akan mengikuti hidup hemat tersebut…

Bangsa boros kok disuruh berhemat…..

Berhemat kok coba-coba….

, , , , ,

Comments are closed.