Home » HUKUM » Terima kasih Gayus
Jan
08

Terima kasih Gayus

notonogoro.com

Kembali kita dikejutkan oleh sepak terjang seorang yang bernama Gayus. Setelah membuat gempar dengan keluyuran ke Bali sekarang terbuka kembali kehebatannya dengan pengakuannya telah keluyuran keluar negeri. Luar biasa sungguh luar biasa. Tidak sembarangan orang bisa melakukan hal seperti ini. Hanya orang yang mempunyai kekuatan khusus saja yang bisa melakukannya dengan santai, tanang dan tidak merasa berdosa.

Wajahnya memang terkesan tidak berdosa. Lugu, tenang, santai adalah kesan pertama. Sungguh mencerminkan bukan orang kebanyakan. Mungkin bisa dikatakan sebagai orang pintar. Orang yang terkesan tidak banyak omong dan tahu persis kekuatan dirinya. Sangat mengerti apa yang telah, sedang dan akan dilakukannya. Sepertinya jago bermain catur, selalu bisa berpikir beberapa langkah kedepan.

Memang karena dia begitu pintar atau sebenarnya ada kekuatan lain yang mengatur semuanya. Dia hanya melakukan apa yang diatur oleh kekuatan tersebut. Karena sangat aneh masih ada saja orang yang mau melakukan pelanggaran hukum untuk seseorang yang sedang menjadi sorotan dinegara ini. Apakah mereka tidak berpikir bahwa apa yang akan dilakukannya sangat beresiko tinggi dan akan mudah untuk diketahui orang lain. Sepertinya tidak mungkin ada orang yang berani mengambil resiko tersebut hanya karena alas an uang. Taruhannya terlalu besar. Tetapi ya..bagaimana ya…

Untuk jelasnya kita bagi saja menjadi dua bagian. Pertama adalah mereka melakukan semua itu hanya semata-mata alasan uang dan mereka sudah biasa melakukan hal seperti ini dan selama ini aman-aman saja. Kedua adalah ada kekuatan besar yang mengatur semua ini dan Gayus tidak bisa tidak harus mengikuti kekuatan ini. Apakah mutlak hanya disetir saja atau Gayus coba ikut bermain memanfaatkan kekuatan besar ini karena mungkin dia memiliki kartu truf, kartu yang dapat mematikan beberapa pejabat atau orang penting.

Jika berdasar yang “pertama” maka itulah wajah penegak dan penegakan hukum dinegara ini. Selama ada uang maka semua bisa diatur. Sangat wajar, biasa-biasa saja, tidak merasa bersalah karena memang  mereka sudah biasa malakukan hal ini. Sudah mendarah daging. Pokoknya ada gula ada semut. Wong didalam penjara kok bisa hamil, wong didalam penjara kok bisa mengatur bisnis narkoba. Apa iya polisi tidak bertanya pada saat menyidik kasus keluyuran ke Bali, “pergi kemana saja kamu pada saat keluar dari tahanan Brimob?”  kan seharusnya bisa digali lebih dalam. Tidak pura-pura kaget seperti sekarang ini. Kaget yang bikin rakyat semakin tidak percaya. Tetapi untuk rakyat ya biasa-biasa saja, gak usah bingung dan gak usah kaget. Diatas melanggar hukum dibawah juga ikut melanggar hukum. Namanya juga sudah menjadi budaya aparat.

Yang seperti ini ada dimana-mana dan hanya beda cerita saja tetapi judulnya sih sama saja. Uang dan uang. Mulai dari recehen seperti menjual map khusus via koperasi untuk mengurus suatu urusan disuatu institusi sampai dengan mafia hukum.

Jika berdasar yang “kedua” maka itulah wajah politik dan pengusaha kita. Agar namanya tidak rusak yang dapat merusak bisnis dan keluarganya juga maka apapun dilakukan dengan memanfaatkan kekuasaan dan kekuatan yang dimilikinya sekarang ini. Pokoknya diatur sedemikian rupa untuk sama-sama untung, paling tidak dia saja yang untung dan orang lain yang rugi. Penguasa tersebut akan untung dan sang Gayus akan rugi misalnya mati mendadak. Siapapun yang bisa dikorbankan akan dikorbankan, tanpa peduli, jangankan uang, nyawapun menjadi tidak ada harganya.

Jadi judulnya adalah semua masih bisa diatur, semua masih bisa dibeli. Kepentingan pribadi dan kelompok masih sangat dominan, kepentingan orang banyak apalagi kepentingan Negara menjadi tersingkirkan. Menjadi tidak penting lagi. Inilah potret wajah hukum kita. Mau ngomong apa lagi lu sama orang luar negeri. Mau ngeles apa lagi. Sudah kehabisan jurus. Terima terima dan terima apa adanya saja. Malu ya malu tapi mau apa lagi. Wong presiden saja tidak bisa ngapa-ngapain apalagi kita rakyat biasa. Apa mau demo besar-besaran lagi. Cape kali yeee.

Marilah kita sikapi secara positip sindrom Gayus ini. Apa yang dilakukan dan terjadi dengan gayus adalah semata-mata bukti yang dibuka oleh alam semesta ini untuk umum tentang kondisi penegakan hukum dinegara ini. Faka yang tidak terbantahkan. Mulai dari presiden sampai penegak hukum paling bawahpun memang belum bisa diharapkan untuk menegakkan hukum. Yang satu sibuk pencitraan, yang satu sibuk ngeles, yang satu sibuk ngomentari, yang satu sibuk demo….pokoknya pada sibuk masing-masing dan ngurusin kepentingan sendiri-sendiri saja.

Kita sebagai satu bangsa memang masih dalam proses seleksi atau pengayakan atau penyaringan. Semua borok dibuka dan sedikit demi sedikit akan timbul kekuatan baru dibangsa ini untuk benar-benar melakukan reformasi sejati. Setiap bencana dan borok yang timbul secara bersamaan menimbulkan kekuatan baru yang bersih yaitu kekuatan untuk Reformasi menuju gemah ripah loh jinawi. Mereka memang belum muncul. Tunggu saatnya. Oleh karena itu terima kasih Gayus dan kita tunggu Gayus-Gayus yang lain. Masih banyak kok, jadi jangan kaget ya….

, , , ,

Comments are closed.